Selasa, 19 April 2016

MAKALAH KERAJAAN TURKI USMANI, SYAFAWI DAN MOGUL

MAKALAH
Perkembangan Peradaban Islam pada Masa Tiga Kerajaan Besar
Turki Usmani, Syafawiyah, dan Mughol

Makalah ini disusun guna memenuhi tugas Sejarah Kebudayaan Islam dan Budaya Lokal
Dosen Pengampu : Muhammad Fatkhan, S.Ag. M.Hum. 
Ass. Sumarni Aini Chabibah, M. Hum.

Disusun oleh :
1. Is Mardhiyati                                (15600022)
2. Farahdiba Balqis                          (15600032)
3. Anggriawan Budi S                      (15600035)
4. Reni Safitri                                   (15600042)
6. Suryo Setiawan                            (15600048)
5. Annisaul Muthohharoh A.P.         (15600056)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2016



Perkembangan Peradaban Islam pada Masa Tiga Kerajaan Besar
Turki Usmani, Syafawiyah, dan Mughol

KATA PENGANTAR
Puji syukur penyusun panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya sehingga penyusun berhasil menyelesaikan makalah berjudul “Perkembangan Peradaban Islam Masa Tiga Kerajaan Besar : Turki Usmani, Safawiyah dan Mogul.” tepat pada waktunya. Makalah ini berisikan tentang informasi terkait sejarah perkembangan peradaban Islam pada tiga kerajaan besar di Persia, India, dan Turki
Umat Islam mengalami puncak keemasan pada masa pemerintahan Abbasiyah. pada masa itu banyak bermunculan para pemikir Islam kenamaan yang sampai sekarang pemikirannya masih banyak diperbincangkan dan dijadikan dasar kebijakan bagi pemikiran hingga masa mendatang, baik dalam bidang keagamaan maupun umum. Kemajuan Islam ini tercipta berkat usaha dari berbagai komponen masyarakat, baik ilmuan. Birokrat, agamawan, militer, ekonom, maupun masyarakat umum.
Pada zaman pertengahan yang diawali dengan runtuhnya Abbasiyah di Baghdad, akibat serangan tentara Mongol yang di pimpin oleh Hulagu Khan 1 pada tahun 1258 hingga akhirnya kekuatan politik Islam mengalami kemunduran yang sangat drastis. Wilayah kekuasaan tercabik-cabik dalam beberapa kerajaan kecil, sehingga antara yang satu sama lainnya saling memerangi, beberapa peninggalan budaya dan peradaban Islam banyak yang hancur. Namun kemalangan tidak cukup sampai disitu, kemudian Timur Lenk menghancurkan pusat-pusat kekuasaan Islam yang lain. Namun tidak harus menunggu dengan waktu yang cukup lama, kemudian keadaan politik Islam secara keseluruhan berangsur membaik dan pulih bersamaan dengan munculnya tiga kerajaan besar yaitu: Kerajaan Turki Usmani di Turki (1300-1922), Kerajaan Safawi di Persia (1501-1732) dan Kerajaan Moghul di India (1526-1857). Dari tiga kerajaan yang telah disebutkan di atas yang paling lama berdirinya adalah kerajaan Turki Usmani.
Makalah ini akan membahas tentang perkembangan peradaban Islam pada masa tiga kerajaan besar, yakni Kerajaan Turki Utsamani, Kerajaan Syafawi, dan Kerajaan Mughol yang pada zamannya itu menjadi tonggak kejayaan peradaban Islam.
Metode yang digunakan dalam membuat makalah ini adalah studi kepustakaan, yaitu dengan mencari informasi melalui buku yang diperlukan sebagai landasan teori yang berkaitan dengan materi pembahasan.
Tidak lupa ucapan terimakasih penulis sampaikan kepada Dosen Pengampu Sejarah Kebudayaan Islam dan seluruh pihak yang turut membantu terselesaikannya makalah ini.
Penyusun menyadari makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, untuk itu segala kritik dan saran yang bersifat membangun senantiasa penyusun harapkan demi kesempurnaan makalah ini di masa yang akan datang.
Akhir kata, penyusun sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

1.      Perkembangan Peradaban Islam di Masa Kerajaan Turki Usmani
Kerajaan Turki Usmani ini tidaklah bisa disamakan dengan kedua dinasti yang sebelumnya yaitu Bani Umayah dan Abbasiyah, tetapi melihat peranannya sebagai benteng kekuatan umat Islam dalam menangkal bangsa Eropa ke Timur. Turki Usmani telah menunjukan kehebatannya dalam menghadapi serangan musuh, serangan-serangan perluasan yang dilakukannya langsung masuk ke wilayah penting termasuk penaklukan konstantinopel, selain itu, Turki Usmani dianggap sebagai dinasti yang mampu menghimpun kembali umat Islam setelah mengelami kemunduran ilmu pengetahuan dan politik. Munculnya kerajaan Turki Usmani, kembali menjadikan umat Islam sebagai kekuatan yang solid.
Perjalanan panjang sejarah dinasti Turki Usmani yang dipimpin oleh beberapa pemimpin sehingga menghasilkan corak kepemimpinannya yang berbeda-beda, termasuk perbedaan dalam pengambilan kebijakan-kebijakannya yang terjadi pada waktu itu. Baik dalam bidang sosial, politik, pendidikan dan lain sebagainya.
    a)      Sejarah Berdirinya Kerajaan Turki Usmani
Dinasti Turki Usmani berasal dari suku Qayigh Aghuz yang di pimpin oleh Sulaeman Syah. Upaya menghindari serangan Mongol yang sedang berusaha menguasai dunia Islam. Sulaeman Syah dan sukunya meminta perlindungan kepada Jalaludin (Dinasti Khawarizmi Syah) di Transoxiana. Jalaludin meminta agar Sulaeman dan anggota sukunya tinggal di Asia kecil. Masih dalam menghindari serangan Mongol. Kemudian mereka pindah ke Syam.[1] Dalam jangka waktu kira kira tiga abad, mereka pindah ke Turkistan kemudian Persia dan Irak. Mereka masuk Islam sekitar abad kesembilan atau kesepuluh, ketika mereka menetap di Asia Tengah. Di bawah tekanan serangan Mongol pada abad ke 13 M, mereka melarikan diri kedaerah barat dan mencari tempat pengungsian ditengah saudara-saudara mereka, orang orang Turki Seljuk, di daratan tinggi Asia Kecil. Di bawah pimpinan Ertoghrul, mereka mengabdikan diri kepada Sultan Alauddin II, Sultan Seljuk yang kebetulan sedang berperang melawan Bizantium. Berkat bantuan mereka, Sultan Alauddin mendapat kemenangan. Atas jasa baik itu, Alauddin menghadiakan sebidang tanah di Asia kecil yang berbatasan dengan Byzantium. Sejak itu mereka terus membina wilayah barunya dan memilih kota Syukud sebagai ibu kota.[2]
Sejarawan mencatat bahwa Turki Usmani berdiri tahun 1281 M, terletak di daerah Asia kecil. Pendirinya adalah Utsman bin Ethogral. Wilayah kekuasaannya meliputi: Asia kecil dan daerah Trace (1354 M), kemudian menguasai selat Dardanlese (1361 M), Casablanca (1389 M) selanjutnya kerajaan Turki menaklukan kerajaan-kerajaan Romawi (1453 M). Kata Utsman di ambil dari nama kakek mereka yang pertama dan pendiri kerajaan ini, yaitu Utsman bin Erthogrul bin Sulaeman syah dari suku Qayigh.[3]
Pasukan Erthogul memperoleh gelar “Muqaddimah Sultan”[4], sedangkan Erthogul sendiri digelari “Sultan OKI” (Kening Sultan)[5]. Setelah Erthogul wafat pada tahun 1289 M, kepemimpinan dilanjutkan oleh putranya Usman pada tahun 1300 M. Mongol menyerang dinasti Saljuk dan Sultan Alauddin II mati terbunuh. Sepeninggal Sultan Alauddin II, Saljuk terpecah menjadi dinasti-dinasti kecil. Dalam keadaan demikian, Utsman menyatakan kemerdekaannya dan berkuasa penuh atas daerah yang dikuasainya. Maka sejak itulah kerajaan Usmani dinyatakan berdiri, dan Penguasa pertamanya adalah Usman, yang disebut juga dengan Usman I.
Usman I mengumumkan dirinya sebagai Padiansyah Ali Usman (Raja Besar keluarga Usman), tahun 699 H (1300 M), setapak demi setapak wilayah kerajaan dapat diperluasnya. Ia melakukan ekspansi ke daerah perbatasan Bizantium dan menaklukan kota Brosseca tahun 1317 M. Kemudian pada tahun 1326 M kota Brosseca dijadikan ibu kota kerajaan.[6] Dengan lahirnya daulah Usman dapatlah Islam kembali kepermukaan dan memperlihatkan kegagahperkasaannya yang luar biasa dan dapat menyambung usaha dan kemegahannya yang lama sampai abad ke-20.
Perluasan Islam pada masa kerajaan Usman semakin meluas, dari semenanjung Balkan (Negeri-negeri Eropa Timur), kemudian kerajaan Usmaniyah melebarkan sayapnya kesebelah timur, sehingga dalam waktu singkat, seluruh Persia dan irak yang dikuasai kerajaan Safawiyah yang beraliran syi’ah dapat direbut. Selanjutnya menguasai Syam dan Mesir hingga tahun 1516 M/ 923 H.
Kerajaan Usman memegang kendali dunia Islam, dengan pusat pemerintahannya di Istanbul.[7] Pada periode ini, terlihat terbentuknya pemerintahan Formal Usmaniyah, yang bentuk intuisi tersebut tidak berubah selama empat abad. Kemudian pemerintah Usmaniyah mengembangkan suatu system yang dikenal dengan sebutan yang bernama Millet[8], yang mana kelompok agama dan suku minoritas dapat mengurus masalah mereka sendiri tanpa intervensi dan kontrol yang banyak dari pemerintah pusat.
Setelah Usman meninggal, selanjutnya digantikan oleh Orkhan (726 H/ 1326M). Pada masa pemerintahannya, kerajaan Turki Usmani dapat menaklukan Azmir (Smirna) tahun 1327 M, Thawasyanli (1330 M), Uskandar (1338 M), Ankara (1354 M) dan Gallipoli (1356 M), daerah ini adalah adalah bagian Benua Eropa yang pertama kali diduduki Kerajaan Usmani. Faktor penting yang mendukung atas keberhasilan dalam melakukan ekspansi adalah keberanian, keterampilan, ketangguhan dan kekuatan militernya yang sanggup bertempur kapan dan dimanapun berada.
Setelah Orkhan meninggal kemudian digantikan oleh Murad I, yang berkuasa pada tahun (761 H/ 1359 M-789 H-1389 M), selain memantapkan keamanan dalam negeri, ia melakukan perluasan ke daerah Benua Eropa. Ia dapat menaklukan Adrianopel kemudian dijadikannya ibu kota kerajaan yang baru, Macedonia, Sopia, Salonia, dan seluruh utara bagian yunani. Merasa cemas terhadap kemajuan ekspansi kerajaan ini ke Eropa, Paus mengobarkan semangat perang. Sejumlah besar pasukan sekutu Eropa disiapkan untuk memukul mundur Turki Usmani. Pasukan ini dipimpin oleh Sijisman, raja Hongaria. Namun sultan Bayazid I (1389-1403 M), pengganti Murod I, dapat menghancurkan pasukan sekutu Kristen Eropa tersebut. Peristiwa ini merupakan catatan sejarah yang amat gemilang bagi umat Islam.[9]
Ekspansi kerajaan Usmani sempat terhenti beberapa lama, ketika ekspansi di arahkan ke Konstantinopel. Tentara Mongol yang di pimpin oleh Timur Lenk, melakukan serangan ke Asia kecil. Pertempuran hebat terjadi di Ankara tahun 1402 M. Tentara Turki Usmani mengalami kekalahan. Bayazid bersama putranya, Musa tertawan dan wafat dalam tawanan tahun 1403 M.[10] Setelah Timur Lenk meninggal dunia tahun 1405 M dan kesultanan Mongol terpecah-pecah, Turki Usmani melepaskan diri dari kekuasaan Mongol, selanjutnya mengadakan perbaikan-perbaikan dan meletakan dasar-dasar keamanan dalam negeri. Usaha ini diteruskan oleh Murad II (1421-1451 M) sehingga Turki Usmani mencapai puncak kemajuannya pada Masa Muhammad II atau biasa disebut Muhamad al-fatih (1451 M). Gelar ini disandangnya setelah ia berhasil menaklukan benteng Konstantinopel dan diganti namanya menjadi Istambul yang asal katanya Islambul (artinya Tahta Islam). Yang pada saat ini sebagai benteng pertahanan terkuat kerajaan Bizantium.[11]
Secara garis besar kepemimpinan kerajaan Usmaniyah dapat dikelompokkan menjadi 5 periode, yaitu sebagai berikut :
1. Periode pertama yaitu masa pendirian dan pembentukan kekuasaan setelah melepaskan diri dari dinasti Seljuk. Pemimpin kerajaan yang termasuk pada periode ini adalah Usman I, Orkhan, Murad I, Bayazid I, dan Muhammad I.
2. Periode kedua yaitu masa pembenahan, pertumbuhan, dan ekspansi besar-besaran. Periode ini berlangsung selama satu setengah abad dengan enam sultan, yaitu Murad II, Muhammad II, Murad II, Muhammad II, Bayazid II, dan Salim I.
3. Periode ketiga, merupakan periode dimana eksistensi kerajaan sudah mulai terkoyak akibat serangan dari luar. Bahkan pada periode ini banyak wilayah yang sudah lepas dari kekuasaan kerajaan Usmaniyyah, misalnya Hongaria. Pada periode ini merupakan periode terpanjang karena dipimpin oleh 15 sultan yaitu Sulaiman I, Salim II, Murad III, Muhammad III, Ahmad I, Mustafa I, Usman II,Mustafa I,Murad IV,Ibrahim, Muhammad IV,Sulaiman II,Ahmad II,Mustofa II, dan Ahmad III.
4. Periode empat, yaitu masa dimana banyaknya gerakan separatis yang mengakibatkan hilangnya secara perlahan-lahan kekuasaan kerajaan Usmaniyyah. Periode ini berlangsung pada tahun 1703-1839 M dengan dipimpin oleh 8 sultan yaitu Ahmad III, Mahmud I, Usman III, Mustofa III, Abdul Hamid I, Salim III, Mustofa IV, Mahmud II, dan Abdul Majid I.
5. Periode terakhir dari kerajaan Usmaniyyah berlangsung sekitar tahun 1839-1922 M dengan lima sultan. Pada masa ini pengaruh Barat sudah mulai nampak, hal ini bisa dibuktikan dengan adanya kebudayaan dan gaya administrasi ala barat. Adapun kelima sultan pada periode ini adalah Abdul Aziz, Murad V, Abdul Hamid II, Muhammad V, dan Muhammad VI.
     b)      Keagamaan Dan Kebudayaan Usmani
Dalam bidang keagamaan kerajaan Usmaniyyah berpegang teguh pada syari’at Islam, sehingga tidak aneh ketika fatwa ulama menjadi sesuatu hal yang urgen dalam menjawab problematika keagaan umat. Selain itu pada masa kejaraan Usmaniyyah muncul banyak aliran tarekat misalnya tarekat Bektasyi dan Maulawi yang mempunyai banyak pengikut baik dari kalangan sipil mauoun militer.
Puncak dari perkembangan peradaban Usmani tatkal berhasil menaklukkan konstatinopel di kota ini. Dibangunlah berbagai sarana umat Islam seperti pembangunan madrasah,rumah sakit,masjid,serta bangunan-bangunan megah lainnya dengan arsitektur kenamaan yaitu Sinan dan Anatolia.
     c)      Kemajuan-Kemajuan Turki Usmani
Akibat kegigihan dan ketangguhan yang dimiliki oleh para pemimpin dalam mempertahankan Turki Usmani membawa dampak yang baik sehingga kemajuan-kemajuan dalam perkembangan wilayah Turki Usmani dapat di raihnya dengan cepat. Dengan cara atau taktik yang dimainkan oleh beberapa penguasa Turki seperti Sultan Muhammad yang mengadakan perbaikan-perbaikan dan meletakkan dasar-dasar keamanan dalam negerinya yang kemudian diteruskan oleh Murad II (1421-1451M)[12]. Sehingga Turki Usmani mencapai puncak kejayaan pada masa Muhammad II (1451- 1484 M). Usaha ini di tindak lanjuti oleh raja-raja berikutnya, sehingga dikembangkan oleh Sultan Sulaiman al-Qonuni. Ia tidak mengarahkan ekspansinya kesalah satu arah timur dan Barat, tetapi seluruh wilayah yang berada disekitar Turki Usmani itu, sehingga Sulaiman berhasil menguasai wilayah Asia kecil.
Kemajuan dan perkembangan wilayah kerajaan Usmani yang luas berlangsung dengan cepat dan diikuti oleh kemajuan-kemajuan dalam bidang-bidang kehidupan lain yang penting, diantaranya :
1)      Bidang Kemiliteran dan Pemerintahan
Untuk pertama kalinya Kerajaan Usmani mulai mengorganisasi taktik, strategi tempur dan kekuatan militer dengan baik dan teratur. Sejak kepemimpinan Ertoghul sampai Orkhan adalah masa pembentukan kekuatan militer. Perang dengan Bizantium merupakan awal didirikannya pusat pendidikan dan pelatihan militer, sehingga terbentuklah kesatuan militer yang disebut dengan Jenissari atau Inkisyariah. Selain itu kerajaan Usmani membuat struktur pemerintahan dengan kekuasaan tertinggi di tangan Sultan yang dibantu oleh Perdana Menteri yang membawahi Gubernur.
2)      Bidang Ilmu Pengetahuan dan Budaya
Kebudayaan Turki Usmani merupakan perpaduan bermacam-macam kebudayaan diantaranya adalah kebudayaan Persia, Bizantium dan Arab. Dalam bidang Ilmu Pengetahuan di Turki Usmani tidak begitu menonjol karena mereka lebih memfokuskan pada kegiatan militernya, sehingga dalam khasanah Intelektual Islam tidak ada Ilmuan yang terkemuka dari Turki Usmani .
3)      Bidang Keagamaan
Agama dalam tradisi masyarakat Turki mempunyai peranan besar dalam lapangan sosial dan politik. Para Mufti menjadi pejabat tertinggi dalam urusan agama dan beliau mempunyai wewenang dalam memberi fatwa resmi terhadap problem keagamaan yang terjadi dalam masyarakat.

Kemajuan-kemajuan yang diperoleh kerajaan Turki Usmani tersebut tidak terlepas daripada kelebihan-kelebihan yang dimilikinya, antara lain:
a.       Mereka adalah bangsa yang penuh semangat, berjiwa besar dan giat.
b.      Mereka memiliki kekuatan militer yang besar.
c.       Mereka menghuni tempat yang sangat strategis, yaitu Constantinopel yang berada pada tititk temu antara Asia dan Eropa.[13]
Disamping itu keberanian, ketangguhan dan kepandaian taktik yang dilakukan oleh para penguasa Turki Usmani sangatlah baik, serta terjalinnya hubungan yang baik dengan rakyat kecil, sehingga hal ini pun juga mendukung dalam memajukan dan mempertahankan kerajaan Turki Usmani.
d)     Kemunduran Kerajaan Turki Usmani
Kemunduran Turki Usmani terjadi setelah wafatnya Sulaiman Al-Qonuni. Hal ini disebabkan karena banyaknya kekacauan yang terjadi setelah Sultan Sulaiman meninggal diantaranya perebutan kekuasaan antara putra beliau sendiri. Para pengganti Sulaiman sebagian besar orang yang lemah dan mempunyai sifat dan kepribadian yang buruk. Juga karena melemahnya semangat perjuangan prajurit Usmani yang mengakibatkan kekalahan dalam mengahadapi beberapa peperangan. Ekonomi semakin memburuk dan sistem pemerintahan tidak berjalan semestinya.
Selain faktor diatas, ada juga faktor-faktor yang menyebabkan kerajaan Usmani mengalami kemunduran, diantaranya adalah  :
1)      Wilayah Kekuasaan yang Sangat Luas
Perluasan wilayah yang begitu cepat yang terjadi pada kerajaan Usmani, menyebabkan pemerintahan merasa kesulitan dalam melakukan administrasi pemerintahan, terutama pasca pemerintahan Sultan Sulaiman. Sehingga administrasi pemerintahan kerajaan Usmani tidak beres. Tampaknya penguasa Turki Usmani hanya mengadakan ekspansi, tanpa mengabaikan penataan sistem pemerintahan. Hal ini menyebabkan wilayah-wilayah yang jauh dari pusat mudah direbut oleh musuh dan sebagian berusaha melepaskan diri.
2)      Heterogenitas Penduduk
Sebagai kerajaan besar, yang merupakan hasil ekspansi dari berbagai kerajaan, mencakup Asia kecil, Armenia, Irak, Siria dan negara lain, maka di kerajaan Turki terjadi heterogenitas penduduk. Dari banyaknya dan beragamnya penduduk, maka jelaslah administrasi yang dibutuhkan juga harus memadai dan bisa memenuhi kebutuhan hidup mereka. Akan tetapi kerajaan Usmani pasca Sulaiman tidak memiliki administrasi pemerintahan yang bagus di tambah lagi dengan pemimpin-pemimpin yang berkuasa sangat lemah dan mempunyai perangai yang jelek.
3)      Kelemahan para Penguasa
Setelah sultan Sulaiman wafat, maka terjadilah pergantian penguasa. Penguasa-penguasa tersebut memiliki kepribadian dan kepemimpinan yang lemah akibatnya pemerintahan menjadi kacau dan susah teratasi.
4)      Budaya Pungli
Budaya ini telah merajalela yang mengakibatkan dekadensi moral terutama dikalangan pejabat yang sedang memperebutkan kekuasaan (jabatan).
5)      Pemberontakan Tentara Jenissari
Pemberontakan Jenissari terjadi sebanyak empat kali yaitu pada tahun 1525 M, 1632 M, 1727 M dan 1826 M. Pada masa belakangan pihak Jenissari tidak lagi menerapkan prinsip seleksi dan prestasi, keberadaannya didominasi oleh keturunan dan golongan tertentu yang mengakibatkan adanya pemberontakan-pemberontakan.
6)      Merosotnya Ekonomi
Akibat peperangan yang terjadi secara terus menerus maka biaya pun semakin membengkak, sementara belanja negara pun sangat besar, sehingga perekonomian kerajaan Turki pun merosot.
7)      Terjadinya Stagnasi dalam Lapangan Ilmu dan Teknologi
Ilmu dan Teknologi selalu berjalan beriringan sehingga keduanya sangat dibutuhkan dalam kehidupan. Keraajan Usmani kurang berhasil dalam pengembagan Ilmu dan Teknologi ini karena hanya mengutamakan pengembangan militernya. Kemajuan militer yang tidak diimbangi dengan kemajuan ilmu dan teknologi menyebabkan kerajaan Usmani tidak sanggup menghadapi persenjataan musuh dari Eropa yang lebih maju.

2.      Perkembangan Peradaban Islam di Masa Kerajaan Mongol
e)      Awal Mula Kerajaan Mongol di India
Awal mula bangsa Mongol aalah asyarakat yang nomaden. Bangsa Mongol berada di wilayah pegunungan Mongolia, berbatasan dengan Cina di Selatan, Turkestan di Barat, Manchuria di Timur, dan Siberia di sebelah Utara (Ambari, 1993:97). Kebanyakan dari mereka mendiami padang stepa yang membentang di antara pegunungan Ural sampai pegunungan Altai di Asia Tengah, dan mendiami hutan Siberia dan Mongol di sekitar Danau Baikal. Karena masyarakat Mongol adalah masyarakat yang berpindah-pindah dari satu hutan ke hutan lain yaitu Siberia dan Mongol Luar di sekitar Danau Baikal[14]. Ketika Islam sedang mengalami kejayaannya, bangsa Mongol sangat dikenal sebagai bangsa perusak kebudayaan Islam. Akan tetapi keadaan tersebut berubah setelah Kerajaan Ummayah menaklukkan India.[15] Proses Islamisasi terhadap masyarakat India terjadi pada tahun 1020 M, dan setelah itu muncullah dinasti-dinasti kecil yang berada di Indoa.
Kerajaan Mongol yang beribukota di Delhi didirikan oleh Zahiruddin Babur (1482-1530), yang merupakan salah satu dari keturunan Timurlenk. Babur memegang pucuk kepemimpinan sejak berusia 12 tahun. Meskipun masih muda, ia mempunyai ambisi besar. Diantaranya adalah menaklukkan kota Samarkhand.[16] Usaha menaklukkan Kota Samarkhand dilakukan dua kali, karena usaha yang pertama gagal. Usahanya yang kedua, Babur mendapatkan bantuan dari Raja Syafawiyah, Ismail I, sehingga pada tahun 1494 kota tersebut berhasil ditaklukkan.[17] India dapat dikuasai sepenuhnya oleh Babur pada tahun 1526 M setelah mengahkan Ibrahim Lodi yang sebelumnya menjadi penguasa yang bermarkas di Delhi.pada masa kemenangan itulah secara resmi berdiri Kerajaan Mongol di India.
Setelah Babur meninggal, tahta kerajaan Mongol diteruskan oleh putra mahkota yaiu Humayun. Pada awal pemerintahannya, Humayun harus menghadapi gerakan separatis yang dilakukan oleh Bahadur Syah. Selain itu, ia juga dihadapkan pada persoalan pemberontakan yang dilancarkan oleh Sher Khan yang mengakibatkn Humayun harus melarikan diri dan mengasingkan diri di Persia. Pada tahun 1555, Humayun mampu merebut kembali kekuasaan Mongol di Delhi dengan mengalihkan kekuatan Khan Syah.
a)      Wilayah Kekuasaan Mongol dan Dinasti Ilkhan
Perpaduan antara watak nomad dengan ketangkasannya menunggang kuda, serta keberaniannya melawan musuh mengantarkan Bangsa Mongol menjadi bangsa penakluk.  Terbukti banyak negara-negara di Dunia yang telah ditaklukkan meliputi kawasan Cina dan negeri-negeri Islam, khususnya ketika Mongol dipimpin oleh Jengis Khan. Cina bagian Barat, Tibet, ditaklukkan sekitar tahun 1213 M, dan Beijing tahun 1215 M.
Tiga tahun berikutnya ia dapat menguasai kota Thurkistan yang berbatasan dengan Khawarizm Syah yang menjadi wilayah Islam. Selanjunya, secara berturut-turut Turkistan yang juga merupakan wilayah Khawarizm, Bukhara di Samarkhand dan Balkh, serta kota-kota lain yang memiliki peradaban Islam yang tinggi di Asia Tengah tidak luput dari kehancuran dari serangan bangsa Mongol. Jengis Khan juga mengutus anak-anaknya yaitu Tulii untuk menaklukkan Khurasan dan Juchi dan Changhatai untuk menaklukkan wilayah Sri Darya bawah dan Khawarizm.[18]
Sebelum Jengis Khan meninggal Dunia tahun 1227 M, ia membagikan wilayah yang begitu luas kepada keempat anaknya. Pertama, adalah Juchi anak sulungnya menduduki wilayah Siberia bagian Barat dan Stepa Qipchaq termasuk juga Khawarizm. Sebelum ia dapat mempimpin wilayah tersebut ia meninggal Dunia sebelum Jengis Khan. Tetapi warisan wilayah itu telah diberikan kepada anaknya yaitu Batu dan Orda.
Kedua adalah Chagatay. Wilayahnya meliputi Transoxania sampai ke Turkistan Timuratau Turkistan Cina. Keturunan Chagatay yang ada di Barat yaitu Transoxania telah masuk ke dalam kawasan pengaruh Islam, tetapi kemudian dapat dikalahkan Timur Lenk. Dari Turkistan Timur ia meluaskan daerah ke Serimechye Ili, Tien Syan di Tarim. Mereka tidak terpengaruh Islam tetapi ikut dalam penyebaran Islam di Turkistan Cina abad XVII.
Ketiga adalah Ogotai. Ia terpilih menjadi Khan Agung mengantikan Jengis Khan. Setelah mencapai dua generasi, ke-Khan-an Tertinggi disebut keturunan Tohey. Keempat adalah Tuli. Ia menerima daerah Mongolia. bersama dengan anak-anaknya Mongke dan Qubilay Khan. Mongke tetap bertahan di Mongolia sebagai Khan Agung dengan ibukota Qaraqarum dan Qubilay Khan memerintah di Cina yang terkenal dengan Dinasti Yuan sampai abad XIV. Kemudian digantikan oleh Dinasti Ming yang beragama Budha yang berpusat di Beijing kemudian mereka bertikai dengan ke-Khan-an Islam di Barat dan Rusia. Hulagu Khan saudara Qubilay Khan menyerang daerah-daerah Islam sampai Baghdad.
Setelah Hulagu menaklukkan Baghdad ia mendirikan kerajaan Ilkhaniyah di Persia atas nama pemerintahan Khan Agung di Mongolia dan Cina dengan gelar Ilkhan dan membunuh Khalifah terakhir Abbasiyah al-Mu’tasim (13 Februari 1258). Baghdad dan daerah-daerah yang ditaklukkan Hulagu selanjutnya diperintah oleh Dinasti Ilkhan. Ilkhan adalah gelar yang diberikan kepada Hulagu (Nasution, 1985:80). Umat Islam dengan demikian dipimpin oleh Hulagu Khan, seorang raja yang bergama Syamanism. Hulagu memerintah sampai tahun 1265 M kemudian diganti oleh anaknya Abaga hingga tahun 1282 M. Ia beragama kristen Nestorian dan bersekutu dengan kristen Eropa, Armenia Cilicia untuk melawan Mameluk dan saudara-saudaranya dari Dinasti Horde keemasan yang didirikan Batu anak dari Juchi yang beragama Islam.
Setelah kematiam Qubilay Khan (1294 M), maka wilayah kekuasaannya terlepas. Mahmud Ghazan yang sudah masuk Islam memerintah Rasyid al-Din al-Thabib dan Uljaytu agar menuliskan sejarah universalnya. Di bawah pemerintahan Mahmud Ghazna bersama menterinya Rasyid al-Din al-Thabib banyak mengalami kemajuan. Penguasa terakhir Ilkhaniyah adalah Abu Said yang berdamai dengan Mameluk tahun 1323 M dan mengakhiri permusuhan antara kedua kekuasaan itu untuk merebutkan Syiria.
Ilkhaniyah beribukota di Tabris dan Maragha yang merupakan kota perdagangan antara Timur dan Barat. Selama seratus tahun, Ilkhaniyah di Persia terpecah menjadi kerajaan kecil seperti Muzafariyyah dan Salaghariyyah di Faris, dan Jalariyyah dengan ibukota Baghdad.
Dengan kepercayaan dari saudara Moghe Khan, Hulagu dapat mengusai Persia, Irak, Caucasus dan Asia Kecil. Sebelum menaklukkan Baghdad, pada tahun 1256 M Hulagu telah menguasai pusat gerakan Syi’ah di Persia Utara. Tahun 1260 M Hulagu juga menaklukkan Syiria Utara seperti Allepo, Hama dan Hamim. Ketika Hulagu ingin menaklukkan Mesir ia dapat digagalkan oleh pasukan Mamalik Mesir di ‘Ayn-Jalut di Palestina (tahun 1260 M).
Wilayah Ilkhaniyah yang berada di Irak, Kurdistan dan Azerbeijan diwarisi oleh Dinasti Jalayiriyah, tetapi masih memusatkan kekuasaan di Baghdad. Di masa Uways, pengganti Hasan Agung, ia dapat menaklukkan Azerbeijan, tetapi mendapat perlawanan dari Dinasti Muzaffariyah dan penguasa Horde keemasan. Tetapi mereka dapat ditaklukkan oleh Qara Qoyunlu (Domba Hitam) yaitu orang-orang Turkmen yang lari ke Timur akibat invasi Mongol.
Kedudukan Dinasti-Dinasti ini dapat bertahan sampai datangnya Timur Lenk yang mempersatukan mereka dengan membentuk Dinasti Timuriyah yang berpusat di Samarkand.[19] Daerah-daerah kultur Islam yang ada di kawasan Arab yaitu Irak, Syiria dan Persia Barat telah ditaklukkan Mongol, tetapi Mongol sendiri telah mengikuti atau terserap dengan budaya Islam.
b)      Kerajaan-Kerajaan Kekuasaan Mongol
Kerajaan (negara-negara) yang dikuasai oleh Jengiz Khan pada masa itu sangatlah banyak dan ia memiliki empat putra maka untuk mengatur negara-negara bawahannya Jengiz Khan membagi menjadi empat bagian untuk putranya berempat. Putra pertama Juchi Khan, dia mendapat bagian Liberia Barat, Stepa Tartar Utara, Khawarizm. Tetapi 4 bulan berikutnya Juchi Khan meninggal maka digantikan anaknya Batu Khan. Dialah yang menaklukkan Rusia, Polandia, Bulgaria dan Maghyar (Eropa Timur) dan dia bermaksud hendak menaklukkan konstantinopel pusat kerajaan Byzantium pada masa itu. Tetapi sebelum melakukan penjarahan kesana dia sudah mati.
Putra kedua Chagatay Khan, mendapat bagian wilayah yang ke timur dari Transxania sampai ke Turkistan Timur atau Turkistan Cina. Cabang Barat keturunan Chagatay di Transoxania segera masuk ke dalam lingkungan pengaruh Islam, namun ditumbangkan oleh Timur. Cabang timurnya di Seminechi dan Ili, Tien Syan. Tarim lebih tahan terhadap Islam. Namun keturunan Chagatay di timur pada akhirnya membantu menyebarkan Islam di Turkistan Cina dan mereka berada disana sampai abad ke 17.
Putra ketiga Ogotai Khan, mendapat kekuasaan di Tartar Tengah dan Tiongkok Utara. Ogotai inilah yang menyambut gelar ayahnya yang besar “khan”. Ogotai ini pula yang menurunkan kaisar Kubilai Khan yang terkenal dalam sejarah Tiongkok. Sejak itu yang berhak memakai gelar “khan” diantara mereka ialah yang jadi kaisar di Tiongkok. Namun selama dua generasi ke-khan-an tertinggi jatuh ke tangan keturunan-keturunan Tulii Khan.
Putra keempat Tuli Khan, kepadanya diserahkan tanah Iran, Khurason, Kabul (ibu kota Afghanistan), juga Heartland kekaisaran Mongol yaitu Mongolia itu sendiri. Yang mereka kuasai meliputi daerah-daerah taklukan Cina dimana Mongol dikenal sebagai Dinasti Yuan. Dan memerintah sampai separuh abad ke 14. Daya tarik kultural dan keagamaan peradaban Cina ternyata kuat bagi khan-khan agung di Peking. Mereka memeluk agama Budha dan hal ini membuka peluang pertikaian dengan khan-khan Mongol Asia Barat dan Rusia yang memeluk Islam. Adalah salah satu saudara Kubilai yaitu Hulagu (anak Toli Khan) yang melancarkan gelombang baru penaklukan ke Dunia Islam dan mendirikan Ilkhaniyah di Persia dengan demikian ke-khan-an di Asia Barat, untuk maksud-maksud praktis tak lagi mengakuai kekuasaan khan-khan Agung di Mongolia dan di Peking.
c)      Kemajuan Bangsa Mongol
Pada masa pemerintahan Bahadur Khan, Mongol mengalami kemajuan yang sangat besar karena pada masa itu, Bahadur berhasil menyatukan 13 kelompok suku bangsa. Kemudian pada masa pemerintahan Hulagu Khan banyak wilayah yang telah ditaklukannya. Diantaranya adalah kota Baghdad yang pada waktu dipimpin oleh Khalifah al-Mu’tashim. Khalifah al-Mu’tashim tidak mampu membendung topan tentara Hulagu Khan. Selanjutnya Hulagu melanjutkan gerakannya ke Syria dan Mesir. Dari Baghdad pasukan Mongol menyeberangi sungai Khuprat menuju Syria, kemudian melintasi Sinai. Mesir pada tahun 1260 M. Mereka berhasil menduduki Hablur dan Gaza. Selanjutnya pada masa pemerintahan Ghazan, yakni raja yang ketujuh Dinasti Ilkhan, ia mulai memperhatikan perkembangan peradaban. Ia seorang pelindung ilmu pengetahuan dan sastra. Oleh karena itu ia mebangun semacam biara untuk para Darwis, perguruan tinggi untuk mazhab Syafi’i dan Hanafi, sebuah perpustakaan, observatorium dan gedung-gedung umum lainnya.[20]
d)     Dinamika Dinasti Mongol
Secara umum, Kerajaan Mongol ini terbagi dalam tiga periode, yaitu periode gerakan separatism, periode kemajuan, dan periode kegelapan atau kemunduran.
1)      Masa Gerakan Separatis dan Pemberontakan
Pada masa ini kekuasan Mongol harus bekerja keras untuk mewujudkan eksistensi kerajaan. Karena pada masa ini masih banyak ditemukan gerakan separatis dan pemberontakan. Bahkan raja pertama dari dinasti ini, yaitu Babur, harus mengalami kekalahan pahit saat akan menguasai Samarkhand. Pada masa ini dipimpin oleh dua raja yaitu Babur dan Humayun. Pada masa Humayun, gerakan separatis terus bergejolak , misalnya pemberontakan Bahadur Syah, penguasa Gujarat yang memisahkan diri dari Delhi. Pemberontakan yang erjadi membuat Humayun melarikan diri ke Persia.
2)      Masa Keemasan
Satu tahun setelahnya, pada 1556, saat Humayun dapat merebut kembali pasukan Mongol dia meninggal dunia akibat jatuh dari tangga perpustakaan Din Panah. Sepeninggal Humayun, tahta keraaan dipegang oleh anaknya yang bernama Akbar yang baru berusia 14 tahun. Banyak kebijakan yang dilahirkan oleh Akbar, diantaranya politik salakhul (toleransi universal), yaiu kebijakan politik yang menganggap semua warga India memiliki posisi yang sama.
            Kemajuan yang menonjol masa Akbar terlihat dalam sistem sruktur pemerintahan dan kemiliteran. Dimana sudah dikenal jenjang kepangkatan baik bagi pejabat sipil maupun militer. Kemajuan yang dicapai Akbar masih diteruskan oleh generasi penerusnya yaitu Jehangir (1605-1628), Syah Jehan (1628-1658), dan Aurangzeb (1658 – 1707).
            Dinasti Mongol pada saat dipimpin oleh keempa sultan tersebut mengalami banyak kemajuan, baik di bidang kebudayaan, pertambangan, perdagangan, dan keilmuan. Dibidang kebudayaan, terlihat dari perkembangan seni dan arsitektur yang sangat pesat. Hal tersebut dapat diliha dari desain masjid, perpustakaan, dan sekolahan. Simbol masa keemasan an kejayaan dari dinasti Mongol ini terlihat ketika pada tahun 1632, dinasti ini membangun Taj Mahal, dan ketika masa raja ke-6 membangun sebuah masjid Badasahi di Lahore.
3)      Masa Kemunduran Mongol
Setelah meninggalnya Aurangzeb pada ahun 1707 M, dinasti Mongol mulai dilanda konflik , baik internal maupun eksternal. Konflik internal terjadi karena adanya suksesi kepemimpinan dimana terjadi perebutan kekuasaan antara keturunan Bahadur Syah dengan Muhammad Fakhrukhsiyar. Konflik tersebut mengakibatkan perang sadara antara kedua keluarga besar tersebut. Konflik yang berkepanjangan yang terjadi pada dinasti Mongol telah meneybabkan lemahnya roda pemerintahan pusat sehingga banyak daerah yang ingin melepaskan diri dari pemerintah pusat.
            Pada masa kemunduran ini, dinasti Mongol dipimpin oleh beberapa raja. Diantarany Muazzam atau lebih dikenal dengan Syah Akam I Bahadur Syah (1707-1712), Jihandar Syah (1713-1719), Muhammad Syah Nashiruddin Muhammad (1719-1748), Ahmad Syah Bahadur (1748-1754), Alamghir II (1754-1760), Syah Alam (1761-1806), Akbar II (1806-1837), dan Bahadur Syh (1837-1858).
Selain maslah intern dinasti, Mongol juga dihadapkan pada beberapa pemberontakan yang daang dari orang Hindu di bawah pimpinan Banda yang kemudian berhasil merebut kota Sadhaura di sebelah utara Delhi. Di luar itu di Eropa terdapat negara yang emakin kuat posisi dan pengaruhnya, yaitu Inggris. Inggris mulai melancarkan serangannya sejk paa masa Bahadur Syah. Puncak konflik anara Mongol dengan Inggris terjadi pada tahun 1885 M dimana Mongol sudah tidak lagi mempunyai kekuatan. Rakyat India banyak yang dibunuh, Bahadur Syah, raja terakhir Mongol harus rela disuir dari istananya. Terusirnya Bahadur Syah dari istana kerajaan mengakhiri pula ejarah panang dinasti Mongol yang berarti juga hilangnya kekuatan umat Islam di India secara umum.


3.      Perkembangan Peradaban Islam di Masa Kerajaan Safawiyah
a)      Perkembangan Kerajaan Safawi di Persia
Pada waktu kerajaan Turki Usmani sudah mencapai puncak kejayaannya, kerajaan Safawi di Persia masih baru berdiri. Namun pada kenyataannya, kerajaan ini berkembang dengan cepat. Nama Safawi ini terus di pertahankan sampai tarekat Safawiyah menjadi suatu gerakan politik dan menjadi sebuah kerajaan yang disebut kerajaan Safawi. Dalam perkembangannya, kerajaan Safawi sering berselisih dengan kerajaan Turki Usmani.[21]
Kerajaan Safawi mempunyai perbedaan dari dua kerajaan besar Islam lainnya seperti kerajaan Turki Usmani dan Mughal. Kerajaan ini menyatakan sebagai penganut Syi’ah dan dijadikan sebagai madzhab negara. Oleh karena itu, kerajaan Safawi dianggap sebagai peletak dasar pertama terbentuknya negara Iran dewasa ini. Kerajaan Safawi berasal dari sebuah gerakan tarekat yang berdiri di daerah Ardabil kota Azerbaijan (Holt dkk, 1970:394). Tarekat ini bernama Safawiyah sesuai dengan nama pendirinya Safi Al-Din, salah satu keturunan Imam Syi’ah yang keenam “Musa al-Kazim”.
Pada awalnya tarekat ini bertujuan memerangi orang-orang yang ingkar dan pada akhirnya memerangi orang-orang ahli bid’ah.[22] Tarekat ini menjadi semakin penting setelah ia mengubah bentuk tarekat itu dari pengajian tasawuf murni yang bersifat lokal menjadi gerakan keagamaan yang besar pengaruhnya di Persia, Syiria dan Anatolia.
Dalam perkembangannya Bangsa Safawi (tarekat Safawiyah) sangat fanatik terhadap ajaran-ajarannya. Hal ini ditandai dengan kuatnya keinginan mereka untuk berkuasa karena dengan berkuasa mereka dapat menjalankan ajaran agama yang telah mereka yakini (ajaran Syi’ah). Karena itu, lama kelamaan murid-murid tarekat Safawiyah menjadi tentara yang teratur, fanatik dalam kepercayaan dan menentang setiap orang yang bermazhab selain Syiah.
Bermula dari prajurit akhirnya mereka memasuki Dunia perpolitikan pada masa kepemimpinan Junaed (1447-1460 M). Dinasti Safawi memperluas geraknya dengan menumbuhkan kegiatan politik di dalam kegiatan-kegiatan keagamaan. Perluasan kegiatan ini menimbulkan konflik dengan penguasa Kara Koyunlu (domba hitam), salah satu suku bangsa Turki, yang akhirnya menyebabkan kelompok Junaed kalah dan diasingkan kesuatu tempat. Di tempat baru ini ia mendapat perlindungan dari penguasa Diyar Bakr, AK Koyunlu, juga suku bangsa Turki. Ia tinggal di istana Uzun Hasan, yang ketika itu menguasai sebagian besar Persia.[23]
Tahun 1459 M, Juneid mencoba merebut Ardabil tapi gagal. Pada tahun 1460 M, ia mencoba merebut Sircassia tetapi pasukan yang dipimpinnya dihadang oleh tentara Sirwan dan ia terbunuh dalam pertempuran tersebut.[24] Penggantinya diserahkan kepada anaknya Haidar secara resmi pada tahun 1470 M, lalu Haidar kawin dengan seorang cucu Uzun Hasan dan lahirlah Isma’il yang kemudian hari menjadi pendiri kerajaan Safawi di Persia dan mengatakan bahwa Syi’ahlah yang resmi dijadikan mazdhab kerajaan ini. Kerajaan inilah yang dianggap sebagai peletak batu pertama negara Iran.[25]
Gerakan Militer Safawi yang dipimpin oleh Haidar dipandang sebagai rival politik oleh AK Koyunlu setelah ia menang dari Kara Koyunlu (1476 M). Karena itu,  ketika Safawi menyerang wilayah Sircassia dan pasukan Sirwan, AK Koyunlu mengirimkan bantuan militer kepada Sirwan, sehingga pasukan Haidar kalah dan ia terbunuh.[26]
Ali, putra dan pengganti Haidar, didesak bala tentaranya untuk menuntut balas atas kematian ayahnya, terutama terhadap AK Koyunlu. Akan tetapi Ya’kub pemimpin AK Koyunlu menangkap dan memenjarakan Ali bersama saudaranya, Ibrahim, Ismail dan ibunya di Fars (1489-1493 M). Mereka dibebaskan oleh Rustam, putra mahkota AK Koyunlu dengan syarat mau membantunya memerangi saudara sepupunya. Setelah dapat dikalahkan, Ali bersaudara kembali ke Ardabil. Namun, tidak lama kemudian Rustam berbalik memusuhi dan menyerang Ali bersaudara dan Ali terbunuh (1494 M).[27]
Periode selanjutnya, kepemimpinan gerakan Safawi diserahkan pada Ismail. Selama 5 tahun, Ismail beserta pasukannya bermarkas di Gilan untuk menyiapkan pasukan dan kekuatan. Pasukan yang di persiapkan itu diberi nama Qizilbash (baret merah). Pada tahun 1501 M, pasukan Qizilbash di bawah pimpinan Ismail menyerang dan mengalahkan AK Koyunlu (domba putih) di sharur dekat Nakh Chivan. Qizilbash terus berusaha memasuki dan menaklukkan Tabriz, yakni ibu kota AK Koyunlu dan akhirnya berhasil dan mendudukinya. Di kota Tabriz Ismail memproklamasikan dirinya sebagai raja pertama Dinasti Safawi. Ia disebut juga Ismail I.[28]
Ismail I berkuasa kurang lebih 23 tahun antara 1501-1524 M. Pada sepuluh tahun pertama ia berhasil memperluas wilayah kekuasaannya, Buktinya ia dapat  menghancurkan sisa-sisa kekuatan AK Koyunlu di Hamadan (1503 M), menguasai propinsi Kaspia di Nazandaran, Gurgan dan Yazd (1504 M), Diyar Bakr (1505-1507 M) Baghdad dan daerah Barat daya Persia (1508 M), Sirwan (1509 M) dan Khurasan. Hanya dalam waktu sepuluh tahun itu wilayah kekuasaannya sudah meliputi seluruh Persia dan bagian timur Bulan Sabit Subur (Fertile Crescent). Bahkan tidak sampai di situ saja, ambisi politik mendorongnya untuk terus mengembangkan wilayah kekuasaan ke daerah-daerah lainnya seperti Turki Usmani.
Ismail berusaha merebut dan mengadakan ekspansi ke wilayah kerajaan Usmani (1514 M), tetapi dalam peperangan ini Ismail I mengalami kekalahan malah Turki Usmani yang dipimpin oleh sultan Salim dapat menduduki Tabriz. Kerajaan Safawi terselamatkan dengan pulangnya Sultan Usmani ke Turki karena terjadi perpecahan di kalangan militer Turki di negerinya.[29]
Kekalahan tersebut meruntuhkan kebanggaan dan kepercayaan diri Ismail. Akibatnya dia berubah, dia lebih senang menyendiri, menempuh kehidupan hura-hura dan berburu. Keadaan itu berdampak negatif bagi kerajaan Safawi dan pada akhirnya terjadi persaingan dalam merebut pengaruh untuk dapat memimpin kerajaan Safawi antara pimpinan suku-suku Turki, pejabat keturunan Persia dan Qizibash.[30]
Rasa pemusuhan dengan Kerajaan Usmani terus berlangsung sepeninggal Ismail I, peperangan antara dua kerajaan besar Islam ini terjadi beberapa kali pada masa pemerintahan Tahmasp I (1524-1576 M), Ismail II (1576-1577 M) dan Muhammad Khudabanda (1577-1567M). Pada masa tiga raja tersebut kerajaan Safawi mengalami kelemahan. Hal ini di karenakan sering terjadinya peperangan melawan kerajaan Usmani yang lebih kuat, juga sering terjadi pertentangan antara kelompok dari dalam kerajaan Safawi sendiri. Berikut urutan penguasa kerajaan Safawi :
1)      Isma’il I (1501-1524 M)
2)      Tahmasp I (1524-1576 M)
3)      Isma’il II (1576-1577 M)
4)      Muhammad Khudabanda (1577-1587 M)
5)      Abbas I (1587-1628 M)
6)      Safi Mirza (1628-1642 M)
7)      Abbas II (1642-1667 M)
8)      Sulaiman (1667-1694 M)
9)      Husein I (1694-1722 M)
10)  Tahmasp II (1722-1732 M)
11)  Abbas III (1732-1736 M)
b)    Masa Kejayaan Kerajaan Syafawi
Kondisi kerajaan Safawi yang memprihatinkan itu baru bisa diatasi setelah raja Safawi kelima, Abbas I naik tahta (1588-1628 M). Langkah-langkah yang ditempuh oleh Abbas I dalam rangka memulihkan kerajaan Safawi adalah:
1)      Berusaha menghilangkan dominasi pasukan Qizilbash dengan cara membentuk pasukan baru yang berasal dari budak-budak dan tawanan perang bangsa Georgia, Armenia dan Sircassia.
2)      Mengadakan perjanjian damai dengan Turki Usmani dengan jalan menyerahkan wilayah Azerbaijan, Georgia, dan disamping itu Abbas berjanji tidak akan menghina tiga Khalifah pertama dalam Islam (Abu Bakar, Umar dan Usman) dalam khutbah-khutbah Jum’at. Sebagai jaminan atas syarat itu, Abbas menyerahkan saudara sepupunya Haidar Mirza sebagai sandera di Istambul.[31]
Masa kekuasaan Abbas I merupakan puncak kejayaan kerajaan Safawi. Ia berhasil mengatasi gejolak politik dalam negeri yang mengganggu stabilitas negara dan sekaligus berhasil merebut kembali beberapa wilayah kekuasaan yang pernah direbut oleh kerajaan lain seperti Tabriz, Sirwan dan sebagainya yang sebelumnya lepas direbut oleh kerajaan Usmani. Kemajuan yang di capai kerajaan Safawi tidak hanya terbatas di bidang politik, melainkan bidang lainnya juga mangalami kemajuan. Kemajuan-kemajaun itu antara lain:
1)      Bidang Ekonomi
Kemajuan ekonomi pada masa itu bermula dengan penguasaan atas kepulauan Hurmuz dan pelabuhan Gumrun yang diubah menjadi Bandar Abbas. Dengan demikian Safawiyah menguasai jalur perdagangan antara Barat dan Timur. Di samping sektor perdagangan, Safawiyah juga mengalami kemajuan dalam bidang pertanian, terutama hasil pertanian dari daerah Bulan Sabit yang sangat subur (Fertille Crescent).
2)      Bidang Ilmu Pengatahuan
Sepanjang sejarah Islam Persia di kenal sebagai bangsa yang telah berperadaban tinggi dan berjasa mengembangkan ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, sejumlah ilmuan yang selalu hadir di majlis istana yaitu Baha al-Dina al-Syaerazi, generalis ilmu pengetahuan, Sadar al-Din al-Syaerazi, filosof, dan Muhammad al-Baqir Ibn Muhammad Damad, filosof, ahli sejarah, teolog dan seorang yang pernah pernah mengadakan observasi tentang kehidupan lebah.[32]
3)      Bidang Pembangunan Fisik dan Seni
Kemajuan bidang seni arsitektur ditandai dengan berdirinya sejumlah bangunan megah yang memperindah Isfahan sebagai ibu kota kerajaan ini. Sejumlah masjid, sekolah, rumah sakit, jembatan yang memanjang diatas Zende Rud dan Istana Chihil Sutun. Kota Isfahan juga diperindah dengan kebun wisata yang tertata apik. Ketika Abbas I wafat, di Isfahan terdapat sejumlah 162 masjid, 48 akademi, 1802 penginapan dan 273 pemandian umum. Unsur lainnya terlihat dalam bentuk kerajinan tangan, keramik, permadani dan benda seni lainnya.
c)      Kemunduran dan Kehancuran Kerajaan Safawi
Sepeninggal Abbas I, Kerajaan Safawi berturut-turut diperintah oleh enam raja, yaitu Safi Mirza (1628-1642 M), Abbas II (1642-1667 M), Sulaiman (1667-1694 M), Husein (1694-1722 M), Tahmasp II (1722-1732 M) dan Abbas III (1733-1736 M). Pada masa raja-raja tersebut kondisi kerajaan Safawi tidak menunjukkan grafik naik dan berkembang, tetapi justru memperlihatkan kemunduran yang akhirnya membawa kepada kehancuran.
Raja Safi Mirza (cucu Abbas I) juga menjadi penyebab kemunduran Safawi karena dia seorang raja yang lemah dan sangat kejam terhadap pembesar-pembesar kerajaan. Kota Qandahar lepas dari kekuasaan kerajaan Safawi, diduduki oleh kerajaan Mughal yang ketika itu diperintah oleh Sultan Syah Jehan, sementara Baghdad direbut oleh kerajaan Usmani.
Abbas II adalah raja yang suka minum-minuman keras sehingga ia jatuh sakit dan meninggal. Sebagaimana Abbas II, Sulaiman juga seorang pemabuk. Ia bertindak kejam terhadap para pembesar yang dicurigainya. Akibatnya rakyat bersikap masa bodoh terhadap pemerintah. Ia diganti oleh Shah Husein yang alim. Ia memberi kekuasaan yang besar kepada para ulama Syi’ah yang sering memaksakan pendapatnya terhadap penganut aliran Sunni. Sikap ini membangkitkan kemarahan golongan Sunni Afghanistan, sehingga mereka berontak dan berhasil mengakhiri kekuasaan Dinasti Safawi.[33]
Pemberontakan bangsa Afghan tersebut terjadi pertama kali tahun 1709 M di bawah pimpinan Mir Vays yang berhasil merebut wilayah Qandahar. Pemberontakan lainnya terjadi di Heart, suku Ardabil Afghanistan berhasil menduduki Mashad. Mir Vays diganti oleh Mir Mahmud dan ia dapat mempersatukan pasukannya dengan pasukan Ardabil, sehingga ia mampu merebut negeri-negeri Afghan dari kekuasaan Safawi.
Karena desakan dan ancaman Mir Mahmud, Shah Husein akhirnya mengakui kekuasaan Mir Mahmud dan mengangkatnya menjadi gebernur di Qandahar dengan  gelar Husei Quli Khan (budak Husein). Dengan pengakuai ini, Mir Mahmud makin leluasa bergerak sehingga tahun 1721 M, ia merebut Kirman dan tak lama kemudian ia menyerang Isfahan dan memaksa Shah Husein menyerah tanpa syarat. Pada tanggal 12 Oktober 1722 M Shah Husein menyerah dan 25 Oktober Mir Mahmud memasuki kota Isfahan dengan penuh kemenangan.[34]
Salah seorang putra Husein, bernama Tahmasp II, mendapat dukungan penuh dari suku Qazar dari Rusia, memproklamasikan dirinya sebagai raja yang sah dan berkuasa atas Persia dengan pusat kekuasaannya di kota Astarabad. Tahun 1726 M, Tahmasp II bekerjasama dengan Nadir Khan dari suku Afshar untuk memerangi dan mengusir bangsa Afghan yang menduduki Isfahan. Asyraf, pengganti Mir Mahmud, yang berkuasa di Isfahan digempur dan dikalahkan oleh pasukan Nadir Khan tahun 1729 M. Asyraf sendiri terbunuh dalam peperangan itu. Dengan demikian Dinasti Safawi kembali berkuasa. Namun, pada bulan Agustus 1732 M, Tahmasp II di pecat oleh Nadir Khan dan di gantikan oleh Abbas III (anak Tahmasp II) yang ketika itu masih sangat kecil. Empat tahun setelah itu, tepatnya tanggal 8 Maret 1736, Nadir Khan mengangkat dirinya sebagai raja menggantikan Abbas III. Dengan demikian berakhirlah kekuasaan Dinasti Safawi di Persia.[35] Adapun sebab-sebab kemunduran dan kehancuran kerajaan Safawi adalah:
1)      Adanya konflik yang berkepanjangan dengan kerajaan Usmani.
2)      Terjadinya dekandensi moral yang melanda sebagian pemimpin kerajaaan Safawi, yang juga ikut mempercepat proses kehancuran kerajaan ini.
3)      Pasukan ghulam (budak-budak) yang dibentuk Abbas I ternyata tidak memiliki  semangat perjuangan yang tinggi seperti semangat Qizilbash. Hal ini dikarenakan mereka tidak memiliki ketahanan mental karena tidak dipersiapkan secara terlatih dan tidak memiliki bekal rohani. Kemerosotan aspek kemiliteran ini sangat besar pengaruhnya terhadap lenyapnya ketahanan dan pertahanan kerajaan Safawi.
4)      Seringnya terjadi konflik intern dalam bentuk perebutan kekuasaan di kalangan keluarga istana.

Kesimpulan
Setelah runtuhnya Dinasti Abbasiyah di Baghdad, kondisi Umat Islam mengalami kemunduran dalam banyak hal. Namun keadaan politik Islam secara keseluruhan berangsur membaik dan pulih bersamaan dengan munculnya tiga kerajaan besar yaitu: Kerajaan Turki Usmani di Turki (1300-1922), Kerajaan Safawi di Persia (1501-1732) dan Kerajaan Moghul di India (1526-1857).
Kerajaan Turki Utsmani, Kerajaan Syafawi, dan Kerajaan Mogul memiliki kontribusi besar bagi perkembangan peradaban Islam di dunia. Pada awal kemunculannya ketiga kerajaan ini memainkan peran cukup signifikan dalam meraih kembali kerajaan Islam. Tetapi seiring dengan perkembangan waktu, ketiganya mengalami kemunduran dan akhirnyya mengalami kemunduran.
Dari tiga kerajaan yang telah disebutkan di atas yang paling lama berdirinya adalah kerajaan Turki Usmani, yakni selama 692 tahun. Pendirinya adalah Usman putra Athagol dan mengalami puncak kejayaan pada masa Sulaiman I. Puncak perkembangan peradaban Kerajaan Utsmani adalah tatkala berhasil menaklukan Constantinopel dan membangun berbagai sarana Umat Islam disana. Faktor yang mempengaruhi kemundurannya adalah pemberontakan internal dan peperangan melawan Eropa.
Kerajaan Syafawi berkuasa selama 231 tahun atau sekitar 2 abad. Pendirinya adalah Ismail dan mengalami puncak kejayaan pada periode Abbas I. Kemajuan Syafawi tidak hanya pada bidang keilmuan dan ekonomi saja, namun juga pada bidang kesenia. Faktor yang mempengaruhi kemundurannya adalah ketidakcakapan para pemimpinnya, konflik berkepanjangan dengan Kerajaan Turki Utsmani dan koflik intern serta perebutan kekuasaan di kalangan keluarga istana.
Sedangkan Kerajaan Mogul didirikan oleh Zahiruddin Muhammad Babur di India dan berjaya selama 331 tahun. Kemajuan yang menonjol terjadi pada masa Akbar yakni dalam system struktur pemerintahan dan kemiliteran. Mogul juga berjasa dalam pengembangan bidang pendidikan, keagamaan, pertambangan, perdagangan dan seni. Sebab-sebab kemundurannya adalah terjadinya stagnasi pembinaan militer, kemerosotan moral dan hidup mewah di kalangan tokoh politik, dan lemahnya kepribadin para pemimpinnya.



DAFTAR PUSTAKA
Malik-Sy,H. Maman A. 2005. Sejarah Kebudayaan Islam. Yogyakarta : Pokja Akademik UIN Sunan Kalijaga.
Abubakar, Istianah. 2008. Sejarah Peradaban Islam. Malang : UIN-Malang Press.
Yatim, Dr. Badri. 2000. Sejarah Perdaban Islam. Jakarta : PT RajaGrafindo Persada




[1] Jaih Mubarok. Sejarah Peradaban Islam. Bandung Pustaka Bani Quraisy. 2004. hlm. 113
[2] Badri Yatim. Sejarah Peradaban Islam (Dirasah Islamiyah II), Bandung . PT Raja Grapindo Persada.
2000. hlm. 129
[3] Phillip K. Hitti. History of Arab. Terj. R Cecep Lukman yasin dan Dedi Slamet Riyadi. (Jakarta. Serambi
Ilmu semesta, 2006), hlm. 714
[4] Muqaddimah Sultan: Tentara Pelopor Sultan
[5] M. Masyhur Amin, Sejarah Peradaban Islam. (Bandung: 2004), hlm. 194
[6] Badri Yatim. Sejarah Peradaban Islam, hlm. 130
[7] Musyrifah Sunanto, Sejarah Islam Klasik, (Jakarta: Prenada Media, 2003), hlm. 247
[8] berasal dari Bahasa Arab yang berarti Millah
[9] Badri Yatim,. Sejarah Peradaban Islam, hlm. 131
[10] Ibid. lihat juga ahmad Syalabi, Sejarah Kebudayaan Islam, hlm. 7
[11] Harun Nasution, Islam ditinjau dari berbagai Aspek, (Jakarta. UI Press, 1985), h. 84
[12] Yatim,2003 hlm. 133-134
[13] Al Nadwi, 1987 hlm. 244
[14] Ibid, hlm. 167
[15] Ali, Sejarah Islam Tarikh Pramodern, hlm. 351
[16] Diwaktu Babur menjadi penguasa Mongol, Samarkhand adalah satu kota besar yang berada di Asia Tengah yang masih dikuasi oleh Muhammad Khan Ayibani, seorang raja dari Negeri Bukhara.
[17] K. Ali, Sejarah Islam Tarikh Pramodern, hlm. 352
[18] Bosworth, 1993 hlm. 177
[19] Glasse, 1996 hlm. 201
[20] Yatim, 1998 hlm. 117
[21] Yatim, 1998 hlm. 138
[22] Hamka, 1981 hlm. 79
[23] Holt, 1970 hlm. 396
[24] Brockelman, 1974 hlm. 494
[25] Yatim, 2003 hlm. 139-140
[26] Holt, 1970 hlm. 396
[27] Holt, 1970 hlm. 397
[28] Brockelmann, 1974 hlm. 398
[29] Hassan, 1989 hlm. 337
[30] Yatim, 2003 hlm. 142
[31] Borckelmann, 1974 hlm. 503
[32] Brockelmann, 1974 hlm. 503-504
[33] Hamka, 1981 hlm. 71
[34] Holt, 1970 hlm. 426
[35] Holt, 1970 hlm. 428-429

Tidak ada komentar:

Posting Komentar