MAKALAH
Perkembangan
Peradaban Islam pada Masa Tiga Kerajaan Besar
Turki
Usmani, Syafawiyah, dan Mughol
Makalah
ini disusun guna memenuhi tugas Sejarah Kebudayaan Islam dan Budaya Lokal
Dosen
Pengampu : Muhammad Fatkhan, S.Ag. M.Hum.
Ass.
Sumarni Aini Chabibah, M. Hum.
Disusun
oleh :
1.
Is Mardhiyati (15600022)
2.
Farahdiba Balqis (15600032)
3.
Anggriawan Budi S (15600035)
4.
Reni Safitri (15600042)
6.
Suryo Setiawan (15600048)
5.
Annisaul Muthohharoh A.P. (15600056)
PROGRAM
STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA
FAKULTAS
SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS
ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2016
Perkembangan
Peradaban Islam pada Masa Tiga Kerajaan Besar
Turki
Usmani, Syafawiyah, dan Mughol
KATA
PENGANTAR
Puji syukur penyusun panjatkan kehadirat Allah SWT
yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya sehingga penyusun berhasil
menyelesaikan makalah berjudul “Perkembangan Peradaban Islam
Masa Tiga Kerajaan Besar : Turki Usmani, Safawiyah dan Mogul.” tepat pada waktunya. Makalah ini berisikan tentang
informasi terkait sejarah perkembangan peradaban Islam pada
tiga kerajaan besar di Persia, India, dan Turki
Umat Islam mengalami
puncak keemasan pada masa pemerintahan Abbasiyah. pada masa itu banyak
bermunculan para pemikir Islam kenamaan yang sampai sekarang pemikirannya masih
banyak diperbincangkan dan dijadikan dasar kebijakan bagi pemikiran hingga masa
mendatang, baik dalam bidang keagamaan maupun umum. Kemajuan Islam ini tercipta
berkat usaha dari berbagai komponen masyarakat, baik ilmuan. Birokrat,
agamawan, militer, ekonom, maupun masyarakat umum.
Pada zaman pertengahan
yang diawali dengan runtuhnya Abbasiyah di Baghdad, akibat serangan tentara
Mongol yang di pimpin oleh Hulagu Khan 1 pada tahun 1258 hingga akhirnya
kekuatan politik Islam mengalami kemunduran yang sangat drastis. Wilayah
kekuasaan tercabik-cabik dalam beberapa kerajaan kecil, sehingga antara yang
satu sama lainnya saling memerangi, beberapa peninggalan budaya dan peradaban Islam
banyak yang hancur. Namun kemalangan tidak cukup sampai disitu, kemudian Timur
Lenk menghancurkan pusat-pusat kekuasaan Islam yang lain. Namun tidak harus
menunggu dengan waktu yang cukup lama, kemudian keadaan politik Islam secara
keseluruhan berangsur membaik dan pulih bersamaan dengan munculnya tiga
kerajaan besar yaitu: Kerajaan Turki Usmani di Turki (1300-1922), Kerajaan
Safawi di Persia (1501-1732) dan Kerajaan Moghul di India (1526-1857). Dari
tiga kerajaan yang telah disebutkan di atas yang paling lama berdirinya adalah
kerajaan Turki Usmani.
Makalah
ini akan membahas tentang perkembangan peradaban Islam pada masa tiga kerajaan
besar, yakni Kerajaan Turki Utsamani, Kerajaan Syafawi, dan Kerajaan Mughol yang
pada zamannya itu menjadi tonggak kejayaan peradaban Islam.
Metode yang digunakan dalam
membuat makalah ini adalah studi kepustakaan, yaitu dengan mencari informasi
melalui buku yang diperlukan sebagai landasan teori yang berkaitan dengan
materi pembahasan.
Tidak lupa ucapan
terimakasih penulis sampaikan kepada Dosen Pengampu Sejarah Kebudayaan Islam
dan seluruh pihak yang turut membantu terselesaikannya makalah ini.
Penyusun
menyadari makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, untuk itu segala kritik dan
saran yang bersifat membangun senantiasa penyusun harapkan demi kesempurnaan makalah
ini di masa yang akan datang.
Akhir kata, penyusun sampaikan terima kasih kepada
semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal
sampai akhir. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.
1.
Perkembangan
Peradaban Islam di Masa Kerajaan Turki Usmani
Kerajaan
Turki Usmani ini tidaklah bisa disamakan dengan kedua dinasti yang sebelumnya
yaitu Bani Umayah dan Abbasiyah, tetapi melihat peranannya sebagai benteng
kekuatan umat Islam dalam menangkal bangsa Eropa ke Timur. Turki Usmani telah
menunjukan kehebatannya dalam menghadapi serangan musuh, serangan-serangan
perluasan yang dilakukannya langsung masuk ke wilayah penting termasuk penaklukan
konstantinopel, selain itu, Turki Usmani dianggap sebagai dinasti yang mampu
menghimpun kembali umat Islam setelah mengelami kemunduran ilmu pengetahuan dan
politik. Munculnya kerajaan Turki Usmani, kembali menjadikan umat Islam sebagai
kekuatan yang solid.
Perjalanan
panjang sejarah dinasti Turki Usmani yang dipimpin oleh beberapa pemimpin
sehingga menghasilkan corak kepemimpinannya yang berbeda-beda, termasuk
perbedaan dalam pengambilan kebijakan-kebijakannya yang terjadi pada waktu itu.
Baik dalam bidang sosial, politik, pendidikan dan lain sebagainya.
a)
Sejarah
Berdirinya Kerajaan Turki Usmani
Dinasti Turki Usmani berasal dari suku Qayigh Aghuz
yang di pimpin oleh Sulaeman Syah. Upaya menghindari serangan Mongol yang
sedang berusaha menguasai dunia Islam. Sulaeman Syah dan sukunya meminta
perlindungan kepada Jalaludin (Dinasti Khawarizmi Syah) di Transoxiana.
Jalaludin meminta agar Sulaeman dan anggota sukunya tinggal di Asia kecil.
Masih dalam menghindari serangan Mongol. Kemudian mereka pindah ke Syam.[1] Dalam
jangka waktu kira kira tiga abad, mereka pindah ke Turkistan kemudian Persia
dan Irak. Mereka masuk Islam sekitar abad kesembilan atau kesepuluh, ketika
mereka menetap di Asia Tengah. Di bawah tekanan serangan Mongol pada abad ke 13
M, mereka melarikan diri kedaerah barat dan mencari tempat pengungsian ditengah
saudara-saudara mereka, orang orang Turki Seljuk, di daratan tinggi Asia Kecil.
Di bawah pimpinan Ertoghrul, mereka mengabdikan diri kepada Sultan Alauddin II,
Sultan Seljuk yang kebetulan sedang berperang melawan Bizantium. Berkat bantuan
mereka, Sultan Alauddin mendapat kemenangan. Atas jasa baik itu, Alauddin
menghadiakan sebidang tanah di Asia kecil yang berbatasan dengan Byzantium. Sejak
itu mereka terus membina wilayah barunya dan memilih kota Syukud sebagai ibu kota.[2]
Sejarawan mencatat bahwa Turki Usmani berdiri tahun
1281 M, terletak di daerah Asia kecil. Pendirinya adalah Utsman bin Ethogral.
Wilayah kekuasaannya meliputi: Asia kecil dan daerah Trace (1354 M), kemudian
menguasai selat Dardanlese (1361 M), Casablanca (1389 M) selanjutnya kerajaan
Turki menaklukan kerajaan-kerajaan Romawi (1453 M). Kata Utsman di ambil dari
nama kakek mereka yang pertama dan pendiri kerajaan ini, yaitu Utsman bin
Erthogrul bin Sulaeman syah dari suku Qayigh.[3]
Pasukan Erthogul memperoleh gelar “Muqaddimah
Sultan”[4],
sedangkan Erthogul sendiri digelari “Sultan OKI” (Kening Sultan)[5].
Setelah Erthogul wafat pada tahun 1289 M, kepemimpinan dilanjutkan oleh
putranya Usman pada tahun 1300 M. Mongol menyerang dinasti Saljuk dan Sultan Alauddin
II mati terbunuh. Sepeninggal Sultan Alauddin II, Saljuk terpecah menjadi
dinasti-dinasti kecil. Dalam keadaan demikian, Utsman menyatakan kemerdekaannya
dan berkuasa penuh atas daerah yang dikuasainya. Maka sejak itulah kerajaan Usmani
dinyatakan berdiri, dan Penguasa pertamanya adalah Usman, yang disebut juga dengan
Usman I.
Usman I mengumumkan dirinya sebagai Padiansyah Ali Usman
(Raja Besar keluarga Usman), tahun 699 H (1300 M), setapak demi setapak wilayah
kerajaan dapat diperluasnya. Ia melakukan ekspansi ke daerah perbatasan
Bizantium dan menaklukan kota Brosseca tahun 1317 M. Kemudian pada tahun 1326 M
kota Brosseca dijadikan ibu kota kerajaan.[6]
Dengan lahirnya daulah Usman dapatlah Islam kembali kepermukaan dan
memperlihatkan kegagahperkasaannya yang luar biasa dan dapat menyambung usaha
dan kemegahannya yang lama sampai abad ke-20.
Perluasan Islam pada masa kerajaan Usman semakin
meluas, dari semenanjung Balkan (Negeri-negeri Eropa Timur), kemudian kerajaan Usmaniyah
melebarkan sayapnya kesebelah timur, sehingga dalam waktu singkat, seluruh
Persia dan irak yang dikuasai kerajaan Safawiyah yang beraliran syi’ah dapat
direbut. Selanjutnya menguasai Syam dan Mesir hingga tahun 1516 M/ 923 H.
Kerajaan Usman memegang kendali dunia Islam, dengan
pusat pemerintahannya di Istanbul.[7] Pada
periode ini, terlihat terbentuknya pemerintahan Formal Usmaniyah, yang bentuk
intuisi tersebut tidak berubah selama empat abad. Kemudian pemerintah Usmaniyah
mengembangkan suatu system yang dikenal dengan sebutan yang bernama Millet[8],
yang mana kelompok agama dan suku minoritas dapat mengurus masalah mereka
sendiri tanpa intervensi dan kontrol yang banyak dari pemerintah pusat.
Setelah Usman meninggal, selanjutnya digantikan oleh
Orkhan (726 H/ 1326M). Pada masa pemerintahannya, kerajaan Turki Usmani dapat
menaklukan Azmir (Smirna) tahun 1327 M, Thawasyanli (1330 M), Uskandar (1338
M), Ankara (1354 M) dan Gallipoli (1356 M), daerah ini adalah adalah bagian
Benua Eropa yang pertama kali diduduki Kerajaan Usmani. Faktor penting yang
mendukung atas keberhasilan dalam melakukan ekspansi adalah keberanian,
keterampilan, ketangguhan dan kekuatan militernya yang sanggup bertempur kapan
dan dimanapun berada.
Setelah Orkhan meninggal kemudian digantikan oleh
Murad I, yang berkuasa pada tahun (761 H/ 1359 M-789 H-1389 M), selain memantapkan
keamanan dalam negeri, ia melakukan perluasan ke daerah Benua Eropa. Ia dapat
menaklukan Adrianopel kemudian dijadikannya ibu kota kerajaan yang baru,
Macedonia, Sopia, Salonia, dan seluruh utara bagian yunani. Merasa cemas terhadap
kemajuan ekspansi kerajaan ini ke Eropa, Paus mengobarkan semangat perang.
Sejumlah besar pasukan sekutu Eropa disiapkan untuk memukul mundur Turki Usmani.
Pasukan ini dipimpin oleh Sijisman, raja Hongaria. Namun sultan Bayazid I
(1389-1403 M), pengganti Murod I, dapat menghancurkan pasukan sekutu Kristen
Eropa tersebut. Peristiwa ini merupakan catatan sejarah yang amat gemilang bagi
umat Islam.[9]
Ekspansi kerajaan Usmani sempat terhenti beberapa
lama, ketika ekspansi di arahkan ke Konstantinopel. Tentara Mongol yang di
pimpin oleh Timur Lenk, melakukan serangan ke Asia kecil. Pertempuran hebat
terjadi di Ankara tahun 1402 M. Tentara Turki Usmani mengalami kekalahan.
Bayazid bersama putranya, Musa tertawan dan wafat dalam tawanan tahun 1403 M.[10] Setelah
Timur Lenk meninggal dunia tahun 1405 M dan kesultanan Mongol terpecah-pecah,
Turki Usmani melepaskan diri dari kekuasaan Mongol, selanjutnya mengadakan
perbaikan-perbaikan dan meletakan dasar-dasar keamanan dalam negeri. Usaha ini
diteruskan oleh Murad II (1421-1451 M) sehingga Turki Usmani mencapai puncak
kemajuannya pada Masa Muhammad II atau biasa disebut Muhamad al-fatih (1451 M).
Gelar ini disandangnya setelah ia berhasil menaklukan benteng Konstantinopel
dan diganti namanya menjadi Istambul yang asal katanya Islambul (artinya Tahta Islam).
Yang pada saat ini sebagai benteng pertahanan terkuat kerajaan Bizantium.[11]
Secara garis besar kepemimpinan kerajaan Usmaniyah
dapat dikelompokkan menjadi 5 periode, yaitu sebagai berikut :
1.
Periode pertama yaitu masa pendirian dan pembentukan kekuasaan setelah
melepaskan diri dari dinasti Seljuk. Pemimpin kerajaan yang termasuk pada
periode ini adalah Usman I, Orkhan, Murad I, Bayazid I, dan Muhammad I.
2.
Periode kedua yaitu masa pembenahan, pertumbuhan, dan ekspansi besar-besaran.
Periode ini berlangsung selama satu setengah abad dengan enam sultan, yaitu
Murad II, Muhammad II, Murad II, Muhammad II, Bayazid II, dan Salim I.
3.
Periode ketiga, merupakan periode dimana eksistensi kerajaan sudah mulai
terkoyak akibat serangan dari luar. Bahkan pada periode ini banyak wilayah yang
sudah lepas dari kekuasaan kerajaan Usmaniyyah, misalnya Hongaria. Pada periode
ini merupakan periode terpanjang karena dipimpin oleh 15 sultan yaitu Sulaiman
I, Salim II, Murad III, Muhammad III, Ahmad I, Mustafa I, Usman II,Mustafa
I,Murad IV,Ibrahim, Muhammad IV,Sulaiman II,Ahmad II,Mustofa II, dan Ahmad III.
4.
Periode empat, yaitu masa dimana banyaknya gerakan separatis yang mengakibatkan
hilangnya secara perlahan-lahan kekuasaan kerajaan Usmaniyyah. Periode ini berlangsung
pada tahun 1703-1839 M dengan dipimpin oleh 8 sultan yaitu Ahmad III, Mahmud I,
Usman III, Mustofa III, Abdul Hamid I, Salim III, Mustofa IV, Mahmud II, dan
Abdul Majid I.
5.
Periode terakhir dari kerajaan Usmaniyyah berlangsung sekitar tahun 1839-1922 M
dengan lima sultan. Pada masa ini pengaruh Barat sudah mulai nampak, hal ini
bisa dibuktikan dengan adanya kebudayaan dan gaya administrasi ala barat.
Adapun kelima sultan pada periode ini adalah Abdul Aziz, Murad V, Abdul Hamid
II, Muhammad V, dan Muhammad VI.
b) Keagamaan Dan Kebudayaan Usmani
Dalam bidang keagamaan
kerajaan Usmaniyyah berpegang teguh pada syari’at Islam, sehingga tidak aneh
ketika fatwa ulama menjadi sesuatu hal yang urgen dalam menjawab problematika
keagaan umat. Selain itu pada masa kejaraan Usmaniyyah muncul banyak aliran
tarekat misalnya tarekat Bektasyi dan Maulawi yang mempunyai banyak pengikut
baik dari kalangan sipil mauoun militer.
Puncak dari perkembangan peradaban Usmani tatkal berhasil menaklukkan
konstatinopel di kota ini. Dibangunlah berbagai sarana umat Islam seperti
pembangunan madrasah,rumah sakit,masjid,serta bangunan-bangunan megah lainnya
dengan arsitektur kenamaan yaitu Sinan dan Anatolia.
c)
Kemajuan-Kemajuan Turki Usmani
Akibat kegigihan dan ketangguhan yang dimiliki oleh
para pemimpin dalam mempertahankan Turki Usmani membawa dampak yang baik
sehingga kemajuan-kemajuan dalam perkembangan wilayah Turki Usmani dapat di raihnya
dengan cepat. Dengan cara atau taktik yang dimainkan oleh beberapa penguasa
Turki seperti Sultan Muhammad yang mengadakan perbaikan-perbaikan dan
meletakkan dasar-dasar keamanan dalam negerinya yang kemudian diteruskan oleh
Murad II (1421-1451M)[12].
Sehingga Turki Usmani mencapai puncak kejayaan pada masa Muhammad II (1451-
1484 M). Usaha ini di tindak lanjuti oleh raja-raja berikutnya, sehingga
dikembangkan oleh Sultan Sulaiman al-Qonuni. Ia tidak mengarahkan ekspansinya
kesalah satu arah timur dan Barat, tetapi seluruh wilayah yang berada disekitar
Turki Usmani itu, sehingga Sulaiman berhasil menguasai wilayah Asia kecil.
Kemajuan dan perkembangan wilayah kerajaan Usmani
yang luas berlangsung dengan cepat dan diikuti oleh kemajuan-kemajuan dalam
bidang-bidang kehidupan lain yang penting, diantaranya :
1) Bidang Kemiliteran dan Pemerintahan
Untuk pertama kalinya Kerajaan Usmani
mulai mengorganisasi taktik, strategi tempur dan kekuatan militer dengan baik
dan teratur. Sejak kepemimpinan Ertoghul sampai Orkhan adalah masa pembentukan
kekuatan militer. Perang dengan Bizantium merupakan awal didirikannya pusat
pendidikan dan pelatihan militer, sehingga terbentuklah kesatuan militer yang
disebut dengan Jenissari atau Inkisyariah. Selain itu kerajaan Usmani
membuat struktur pemerintahan dengan kekuasaan tertinggi di tangan Sultan yang
dibantu oleh Perdana Menteri yang membawahi Gubernur.
2)
Bidang Ilmu Pengetahuan dan Budaya
Kebudayaan Turki Usmani merupakan
perpaduan bermacam-macam kebudayaan diantaranya adalah kebudayaan Persia,
Bizantium dan Arab. Dalam bidang Ilmu Pengetahuan di Turki Usmani tidak begitu menonjol
karena mereka lebih memfokuskan pada kegiatan militernya, sehingga dalam khasanah
Intelektual Islam tidak ada Ilmuan yang terkemuka dari Turki Usmani .
3)
Bidang Keagamaan
Agama dalam tradisi masyarakat Turki
mempunyai peranan besar dalam lapangan sosial dan politik. Para Mufti menjadi
pejabat tertinggi dalam urusan agama dan beliau mempunyai wewenang dalam
memberi fatwa resmi terhadap problem keagamaan yang terjadi dalam masyarakat.
Kemajuan-kemajuan yang diperoleh
kerajaan Turki Usmani tersebut tidak terlepas daripada kelebihan-kelebihan yang
dimilikinya, antara lain:
a.
Mereka adalah
bangsa yang penuh semangat, berjiwa besar dan giat.
b.
Mereka memiliki
kekuatan militer yang besar.
c.
Mereka menghuni
tempat yang sangat strategis, yaitu Constantinopel yang berada pada tititk temu
antara Asia dan Eropa.[13]
Disamping itu keberanian, ketangguhan dan kepandaian
taktik yang dilakukan oleh para penguasa Turki Usmani sangatlah baik, serta
terjalinnya hubungan yang baik dengan rakyat kecil, sehingga hal ini pun juga
mendukung dalam memajukan dan mempertahankan kerajaan Turki Usmani.
d) Kemunduran Kerajaan Turki Usmani
Kemunduran Turki Usmani terjadi setelah wafatnya
Sulaiman Al-Qonuni. Hal ini disebabkan karena banyaknya kekacauan yang terjadi
setelah Sultan Sulaiman meninggal diantaranya perebutan kekuasaan antara putra
beliau sendiri. Para pengganti Sulaiman sebagian besar orang yang lemah dan
mempunyai sifat dan kepribadian yang buruk. Juga karena melemahnya semangat
perjuangan prajurit Usmani yang mengakibatkan kekalahan dalam mengahadapi beberapa
peperangan. Ekonomi semakin memburuk dan sistem pemerintahan tidak berjalan
semestinya.
Selain faktor diatas, ada juga faktor-faktor yang
menyebabkan kerajaan Usmani mengalami kemunduran, diantaranya adalah :
1)
Wilayah Kekuasaan yang Sangat Luas
Perluasan wilayah yang begitu cepat yang
terjadi pada kerajaan Usmani, menyebabkan pemerintahan merasa kesulitan dalam
melakukan administrasi pemerintahan, terutama pasca pemerintahan Sultan
Sulaiman. Sehingga administrasi pemerintahan kerajaan Usmani tidak beres.
Tampaknya penguasa Turki Usmani hanya mengadakan ekspansi, tanpa mengabaikan
penataan sistem pemerintahan. Hal ini menyebabkan wilayah-wilayah yang jauh
dari pusat mudah direbut oleh musuh dan sebagian berusaha melepaskan diri.
2)
Heterogenitas
Penduduk
Sebagai kerajaan besar, yang merupakan
hasil ekspansi dari berbagai kerajaan, mencakup Asia kecil, Armenia, Irak,
Siria dan negara lain, maka di kerajaan Turki terjadi heterogenitas penduduk.
Dari banyaknya dan beragamnya penduduk, maka jelaslah administrasi yang
dibutuhkan juga harus memadai dan bisa memenuhi kebutuhan hidup mereka. Akan
tetapi kerajaan Usmani pasca Sulaiman tidak memiliki administrasi pemerintahan
yang bagus di tambah lagi dengan pemimpin-pemimpin yang berkuasa sangat lemah
dan mempunyai perangai yang jelek.
3)
Kelemahan para
Penguasa
Setelah sultan Sulaiman wafat, maka
terjadilah pergantian penguasa. Penguasa-penguasa tersebut memiliki kepribadian
dan kepemimpinan yang lemah akibatnya pemerintahan menjadi kacau dan susah
teratasi.
4)
Budaya Pungli
Budaya ini telah merajalela yang
mengakibatkan dekadensi moral terutama dikalangan pejabat yang sedang
memperebutkan kekuasaan (jabatan).
5)
Pemberontakan
Tentara Jenissari
Pemberontakan Jenissari terjadi
sebanyak empat kali yaitu pada tahun 1525 M, 1632 M, 1727 M dan 1826 M. Pada
masa belakangan pihak Jenissari tidak lagi menerapkan prinsip seleksi
dan prestasi, keberadaannya didominasi oleh keturunan dan golongan tertentu
yang mengakibatkan adanya pemberontakan-pemberontakan.
6)
Merosotnya
Ekonomi
Akibat peperangan yang terjadi secara
terus menerus maka biaya pun semakin membengkak, sementara belanja negara pun
sangat besar, sehingga perekonomian kerajaan Turki pun merosot.
7)
Terjadinya
Stagnasi dalam Lapangan Ilmu dan Teknologi
Ilmu dan Teknologi selalu berjalan
beriringan sehingga keduanya sangat dibutuhkan dalam kehidupan. Keraajan Usmani
kurang berhasil dalam pengembagan Ilmu dan Teknologi ini karena hanya mengutamakan
pengembangan militernya. Kemajuan militer yang tidak diimbangi dengan kemajuan
ilmu dan teknologi menyebabkan kerajaan Usmani tidak sanggup menghadapi
persenjataan musuh dari Eropa yang lebih maju.
2.
Perkembangan
Peradaban Islam di Masa Kerajaan Mongol
e)
Awal Mula
Kerajaan Mongol di India
Awal mula bangsa Mongol aalah asyarakat yang
nomaden. Bangsa Mongol berada di
wilayah pegunungan Mongolia, berbatasan dengan Cina di Selatan, Turkestan di
Barat, Manchuria di Timur, dan Siberia di sebelah Utara (Ambari, 1993:97).
Kebanyakan dari mereka mendiami padang stepa yang membentang di antara pegunungan
Ural sampai pegunungan Altai di Asia Tengah, dan mendiami hutan Siberia dan Mongol
di sekitar Danau Baikal. Karena masyarakat Mongol adalah
masyarakat yang berpindah-pindah dari satu hutan ke hutan lain yaitu Siberia
dan Mongol Luar di sekitar Danau Baikal[14].
Ketika Islam sedang mengalami kejayaannya, bangsa Mongol sangat dikenal sebagai
bangsa perusak kebudayaan Islam. Akan tetapi keadaan tersebut berubah setelah
Kerajaan Ummayah menaklukkan India.[15]
Proses Islamisasi terhadap masyarakat India terjadi pada tahun 1020 M, dan
setelah itu muncullah dinasti-dinasti kecil yang berada di Indoa.
Kerajaan Mongol yang beribukota di Delhi didirikan
oleh Zahiruddin Babur (1482-1530), yang merupakan salah satu dari keturunan
Timurlenk. Babur memegang pucuk kepemimpinan sejak berusia 12 tahun. Meskipun
masih muda, ia mempunyai ambisi besar. Diantaranya adalah menaklukkan kota
Samarkhand.[16]
Usaha menaklukkan Kota Samarkhand dilakukan dua kali, karena usaha yang pertama
gagal. Usahanya yang kedua, Babur mendapatkan bantuan dari Raja Syafawiyah,
Ismail I, sehingga pada tahun 1494 kota tersebut berhasil ditaklukkan.[17]
India dapat dikuasai sepenuhnya oleh Babur pada tahun 1526 M setelah mengahkan
Ibrahim Lodi yang sebelumnya menjadi penguasa yang bermarkas di Delhi.pada masa
kemenangan itulah secara resmi berdiri Kerajaan Mongol di India.
Setelah Babur meninggal, tahta kerajaan Mongol
diteruskan oleh putra mahkota yaiu Humayun. Pada awal pemerintahannya, Humayun
harus menghadapi gerakan separatis yang dilakukan oleh Bahadur Syah. Selain
itu, ia juga dihadapkan pada persoalan pemberontakan yang dilancarkan oleh Sher
Khan yang mengakibatkn Humayun harus melarikan diri dan mengasingkan diri di
Persia. Pada tahun 1555, Humayun mampu merebut kembali kekuasaan Mongol di
Delhi dengan mengalihkan kekuatan Khan Syah.
a)
Wilayah Kekuasaan Mongol dan Dinasti Ilkhan
Perpaduan antara watak nomad dengan
ketangkasannya menunggang kuda, serta keberaniannya melawan musuh mengantarkan
Bangsa Mongol menjadi bangsa penakluk. Terbukti
banyak negara-negara di Dunia yang telah ditaklukkan meliputi kawasan Cina dan
negeri-negeri Islam, khususnya ketika Mongol dipimpin oleh Jengis Khan. Cina
bagian Barat, Tibet, ditaklukkan sekitar tahun 1213 M, dan Beijing tahun 1215
M.
Tiga tahun berikutnya ia dapat menguasai
kota Thurkistan yang berbatasan dengan Khawarizm Syah yang menjadi wilayah Islam.
Selanjunya, secara berturut-turut Turkistan yang juga merupakan wilayah
Khawarizm, Bukhara di Samarkhand dan Balkh, serta kota-kota lain yang memiliki
peradaban Islam yang tinggi di Asia Tengah tidak luput dari kehancuran dari
serangan bangsa Mongol. Jengis Khan juga mengutus anak-anaknya yaitu Tulii
untuk menaklukkan Khurasan dan Juchi dan Changhatai untuk menaklukkan wilayah
Sri Darya bawah dan Khawarizm.[18]
Sebelum Jengis Khan meninggal Dunia
tahun 1227 M, ia membagikan wilayah yang begitu luas kepada keempat anaknya. Pertama,
adalah Juchi anak sulungnya menduduki wilayah Siberia bagian Barat dan Stepa
Qipchaq termasuk juga Khawarizm. Sebelum ia dapat mempimpin wilayah tersebut ia
meninggal Dunia sebelum Jengis Khan. Tetapi warisan wilayah itu telah diberikan
kepada anaknya yaitu Batu dan Orda.
Kedua adalah Chagatay.
Wilayahnya meliputi Transoxania sampai ke Turkistan Timuratau Turkistan Cina.
Keturunan Chagatay yang ada di Barat yaitu Transoxania telah masuk ke dalam
kawasan pengaruh Islam, tetapi kemudian dapat dikalahkan Timur Lenk. Dari
Turkistan Timur ia meluaskan daerah ke Serimechye Ili, Tien Syan di Tarim.
Mereka tidak terpengaruh Islam tetapi ikut dalam penyebaran Islam di Turkistan
Cina abad XVII.
Ketiga adalah
Ogotai. Ia terpilih menjadi Khan Agung mengantikan Jengis Khan. Setelah
mencapai dua generasi, ke-Khan-an Tertinggi disebut keturunan Tohey. Keempat
adalah Tuli. Ia menerima daerah Mongolia. bersama dengan anak-anaknya Mongke
dan Qubilay Khan. Mongke tetap bertahan di Mongolia sebagai Khan Agung dengan ibukota
Qaraqarum dan Qubilay Khan memerintah di Cina yang terkenal dengan Dinasti Yuan
sampai abad XIV. Kemudian digantikan oleh Dinasti Ming yang beragama Budha yang
berpusat di Beijing kemudian mereka bertikai dengan ke-Khan-an Islam di Barat
dan Rusia. Hulagu Khan saudara Qubilay Khan menyerang daerah-daerah Islam
sampai Baghdad.
Setelah Hulagu menaklukkan Baghdad ia
mendirikan kerajaan Ilkhaniyah di Persia atas nama pemerintahan Khan Agung di
Mongolia dan Cina dengan gelar Ilkhan dan membunuh Khalifah terakhir Abbasiyah
al-Mu’tasim (13 Februari 1258). Baghdad dan daerah-daerah yang ditaklukkan
Hulagu selanjutnya diperintah oleh Dinasti Ilkhan. Ilkhan adalah gelar yang
diberikan kepada Hulagu (Nasution, 1985:80). Umat Islam dengan demikian
dipimpin oleh Hulagu Khan, seorang raja yang bergama Syamanism. Hulagu memerintah
sampai tahun 1265 M kemudian diganti oleh anaknya Abaga hingga tahun 1282 M. Ia
beragama kristen Nestorian dan bersekutu dengan kristen Eropa, Armenia Cilicia untuk
melawan Mameluk dan saudara-saudaranya dari Dinasti Horde keemasan yang didirikan
Batu anak dari Juchi yang beragama Islam.
Setelah kematiam Qubilay Khan (1294 M),
maka wilayah kekuasaannya terlepas. Mahmud Ghazan yang sudah masuk Islam
memerintah Rasyid al-Din al-Thabib dan Uljaytu agar menuliskan sejarah universalnya.
Di bawah pemerintahan Mahmud Ghazna bersama menterinya Rasyid al-Din al-Thabib
banyak mengalami kemajuan. Penguasa terakhir Ilkhaniyah adalah Abu Said yang
berdamai dengan Mameluk tahun 1323 M dan mengakhiri permusuhan antara kedua
kekuasaan itu untuk merebutkan Syiria.
Ilkhaniyah beribukota di Tabris dan
Maragha yang merupakan kota perdagangan antara Timur dan Barat. Selama seratus
tahun, Ilkhaniyah di Persia terpecah menjadi kerajaan kecil seperti
Muzafariyyah dan Salaghariyyah di Faris, dan Jalariyyah dengan ibukota Baghdad.
Dengan kepercayaan dari saudara Moghe
Khan, Hulagu dapat mengusai Persia, Irak, Caucasus dan Asia Kecil. Sebelum
menaklukkan Baghdad, pada tahun 1256 M Hulagu telah menguasai pusat gerakan Syi’ah
di Persia Utara. Tahun 1260 M Hulagu juga menaklukkan Syiria Utara seperti
Allepo, Hama dan Hamim. Ketika Hulagu ingin menaklukkan Mesir ia dapat
digagalkan oleh pasukan Mamalik Mesir di ‘Ayn-Jalut di Palestina (tahun 1260
M).
Wilayah Ilkhaniyah yang berada di Irak,
Kurdistan dan Azerbeijan diwarisi oleh Dinasti Jalayiriyah, tetapi masih
memusatkan kekuasaan di Baghdad. Di masa Uways, pengganti Hasan Agung, ia dapat
menaklukkan Azerbeijan, tetapi mendapat perlawanan dari Dinasti Muzaffariyah
dan penguasa Horde keemasan. Tetapi mereka dapat ditaklukkan oleh Qara
Qoyunlu (Domba Hitam) yaitu orang-orang Turkmen yang lari ke Timur akibat invasi
Mongol.
Kedudukan Dinasti-Dinasti ini dapat
bertahan sampai datangnya Timur Lenk yang mempersatukan mereka dengan membentuk
Dinasti Timuriyah yang berpusat di Samarkand.[19] Daerah-daerah
kultur Islam yang ada di kawasan Arab yaitu Irak, Syiria dan Persia Barat telah
ditaklukkan Mongol, tetapi Mongol sendiri telah mengikuti atau terserap dengan
budaya Islam.
b)
Kerajaan-Kerajaan Kekuasaan Mongol
Kerajaan (negara-negara) yang dikuasai
oleh Jengiz Khan pada masa itu sangatlah banyak dan ia memiliki empat putra
maka untuk mengatur negara-negara bawahannya Jengiz Khan membagi menjadi empat
bagian untuk putranya berempat. Putra pertama Juchi Khan, dia mendapat bagian
Liberia Barat, Stepa Tartar Utara, Khawarizm. Tetapi 4 bulan berikutnya Juchi
Khan meninggal maka digantikan anaknya Batu Khan. Dialah yang menaklukkan
Rusia, Polandia, Bulgaria dan Maghyar (Eropa Timur) dan dia bermaksud hendak
menaklukkan konstantinopel pusat kerajaan Byzantium pada masa itu. Tetapi
sebelum melakukan penjarahan kesana dia sudah mati.
Putra kedua Chagatay Khan, mendapat
bagian wilayah yang ke timur dari Transxania sampai ke Turkistan Timur atau
Turkistan Cina. Cabang Barat keturunan Chagatay di Transoxania segera masuk ke
dalam lingkungan pengaruh Islam, namun ditumbangkan oleh Timur. Cabang timurnya
di Seminechi dan Ili, Tien Syan. Tarim lebih tahan terhadap Islam. Namun
keturunan Chagatay di timur pada akhirnya membantu menyebarkan Islam di
Turkistan Cina dan mereka berada disana sampai abad ke 17.
Putra ketiga Ogotai Khan, mendapat
kekuasaan di Tartar Tengah dan Tiongkok Utara. Ogotai inilah yang menyambut
gelar ayahnya yang besar “khan”. Ogotai ini pula yang menurunkan kaisar Kubilai
Khan yang terkenal dalam sejarah Tiongkok. Sejak itu yang berhak memakai gelar
“khan” diantara mereka ialah yang jadi kaisar di Tiongkok. Namun selama dua
generasi ke-khan-an tertinggi jatuh ke tangan keturunan-keturunan Tulii Khan.
Putra keempat Tuli Khan, kepadanya
diserahkan tanah Iran, Khurason, Kabul (ibu kota Afghanistan), juga Heartland
kekaisaran Mongol yaitu Mongolia itu sendiri. Yang mereka kuasai meliputi
daerah-daerah taklukan Cina dimana Mongol dikenal sebagai Dinasti Yuan. Dan
memerintah sampai separuh abad ke 14. Daya tarik kultural dan keagamaan
peradaban Cina ternyata kuat bagi khan-khan agung di Peking. Mereka memeluk
agama Budha dan hal ini membuka peluang pertikaian dengan khan-khan Mongol Asia
Barat dan Rusia yang memeluk Islam. Adalah salah satu saudara Kubilai yaitu
Hulagu (anak Toli Khan) yang melancarkan gelombang baru penaklukan ke Dunia Islam
dan mendirikan Ilkhaniyah di Persia dengan demikian ke-khan-an di Asia Barat,
untuk maksud-maksud praktis tak lagi mengakuai kekuasaan khan-khan Agung di
Mongolia dan di Peking.
c)
Kemajuan Bangsa Mongol
Pada masa pemerintahan Bahadur Khan,
Mongol mengalami kemajuan yang sangat besar karena pada masa itu, Bahadur
berhasil menyatukan 13 kelompok suku bangsa. Kemudian pada masa pemerintahan
Hulagu Khan banyak wilayah yang telah ditaklukannya. Diantaranya adalah kota
Baghdad yang pada waktu dipimpin oleh Khalifah al-Mu’tashim. Khalifah
al-Mu’tashim tidak mampu membendung topan tentara Hulagu Khan. Selanjutnya
Hulagu melanjutkan gerakannya ke Syria dan Mesir. Dari Baghdad pasukan Mongol
menyeberangi sungai Khuprat menuju Syria, kemudian melintasi Sinai. Mesir pada
tahun 1260 M. Mereka berhasil menduduki Hablur dan Gaza. Selanjutnya pada masa
pemerintahan Ghazan, yakni raja yang ketujuh Dinasti Ilkhan, ia mulai
memperhatikan perkembangan peradaban. Ia seorang pelindung ilmu pengetahuan dan
sastra. Oleh karena itu ia mebangun semacam biara untuk para Darwis, perguruan
tinggi untuk mazhab Syafi’i dan Hanafi, sebuah perpustakaan, observatorium dan
gedung-gedung umum lainnya.[20]
d)
Dinamika Dinasti
Mongol
Secara
umum, Kerajaan Mongol ini terbagi dalam tiga periode, yaitu periode gerakan
separatism, periode kemajuan, dan periode kegelapan atau kemunduran.
1)
Masa Gerakan
Separatis dan Pemberontakan
Pada
masa ini kekuasan Mongol harus bekerja keras untuk mewujudkan eksistensi
kerajaan. Karena pada masa ini masih banyak ditemukan gerakan separatis dan
pemberontakan. Bahkan raja pertama dari dinasti ini, yaitu Babur, harus
mengalami kekalahan pahit saat akan menguasai Samarkhand. Pada masa ini
dipimpin oleh dua raja yaitu Babur dan Humayun. Pada masa Humayun, gerakan
separatis terus bergejolak , misalnya pemberontakan Bahadur Syah, penguasa
Gujarat yang memisahkan diri dari Delhi. Pemberontakan yang erjadi membuat
Humayun melarikan diri ke Persia.
2)
Masa Keemasan
Satu
tahun setelahnya, pada 1556, saat Humayun dapat merebut kembali pasukan Mongol
dia meninggal dunia akibat jatuh dari tangga perpustakaan Din Panah.
Sepeninggal Humayun, tahta keraaan dipegang oleh anaknya yang bernama Akbar
yang baru berusia 14 tahun. Banyak kebijakan yang dilahirkan oleh Akbar,
diantaranya politik salakhul
(toleransi universal), yaiu kebijakan politik yang menganggap semua warga India
memiliki posisi yang sama.
Kemajuan yang menonjol masa Akbar terlihat dalam sistem
sruktur pemerintahan dan kemiliteran. Dimana sudah dikenal jenjang kepangkatan
baik bagi pejabat sipil maupun militer. Kemajuan yang dicapai Akbar masih
diteruskan oleh generasi penerusnya yaitu Jehangir (1605-1628), Syah Jehan
(1628-1658), dan Aurangzeb (1658 – 1707).
Dinasti Mongol pada saat dipimpin oleh keempa sultan
tersebut mengalami banyak kemajuan, baik di bidang kebudayaan, pertambangan,
perdagangan, dan keilmuan. Dibidang kebudayaan, terlihat dari perkembangan seni
dan arsitektur yang sangat pesat. Hal tersebut dapat diliha dari desain masjid,
perpustakaan, dan sekolahan. Simbol masa keemasan an kejayaan dari dinasti
Mongol ini terlihat ketika pada tahun 1632, dinasti ini membangun Taj Mahal,
dan ketika masa raja ke-6 membangun sebuah masjid Badasahi di Lahore.
3)
Masa Kemunduran
Mongol
Setelah
meninggalnya Aurangzeb pada ahun 1707 M, dinasti Mongol mulai dilanda konflik ,
baik internal maupun eksternal. Konflik internal terjadi karena adanya suksesi
kepemimpinan dimana terjadi perebutan kekuasaan antara keturunan Bahadur Syah
dengan Muhammad Fakhrukhsiyar. Konflik tersebut mengakibatkan perang sadara
antara kedua keluarga besar tersebut. Konflik yang berkepanjangan yang terjadi
pada dinasti Mongol telah meneybabkan lemahnya roda pemerintahan pusat sehingga
banyak daerah yang ingin melepaskan diri dari pemerintah pusat.
Pada
masa kemunduran ini, dinasti Mongol dipimpin oleh beberapa raja. Diantarany
Muazzam atau lebih dikenal dengan Syah Akam I Bahadur Syah (1707-1712),
Jihandar Syah (1713-1719), Muhammad Syah Nashiruddin Muhammad (1719-1748),
Ahmad Syah Bahadur (1748-1754), Alamghir II (1754-1760), Syah Alam (1761-1806),
Akbar II (1806-1837), dan Bahadur Syh (1837-1858).
Selain maslah intern dinasti, Mongol
juga dihadapkan pada beberapa pemberontakan yang daang dari orang Hindu di
bawah pimpinan Banda yang kemudian berhasil merebut kota Sadhaura di sebelah
utara Delhi. Di luar itu di Eropa terdapat negara yang emakin kuat posisi dan
pengaruhnya, yaitu Inggris. Inggris mulai melancarkan serangannya sejk paa masa
Bahadur Syah. Puncak konflik anara Mongol dengan Inggris terjadi pada tahun
1885 M dimana Mongol sudah tidak lagi mempunyai kekuatan. Rakyat India banyak
yang dibunuh, Bahadur Syah, raja terakhir Mongol harus rela disuir dari
istananya. Terusirnya Bahadur Syah dari istana kerajaan mengakhiri pula ejarah
panang dinasti Mongol yang berarti juga hilangnya kekuatan umat Islam di India
secara umum.
3.
Perkembangan
Peradaban Islam di Masa Kerajaan Safawiyah
a) Perkembangan Kerajaan Safawi di Persia
Pada waktu kerajaan Turki Usmani sudah
mencapai puncak kejayaannya, kerajaan Safawi di Persia masih baru berdiri.
Namun pada kenyataannya, kerajaan ini berkembang dengan cepat. Nama Safawi ini
terus di pertahankan sampai tarekat Safawiyah menjadi suatu gerakan politik dan
menjadi sebuah kerajaan yang disebut kerajaan Safawi. Dalam perkembangannya,
kerajaan Safawi sering berselisih dengan kerajaan Turki Usmani.[21]
Kerajaan Safawi mempunyai perbedaan dari dua kerajaan
besar Islam lainnya seperti kerajaan Turki Usmani dan Mughal. Kerajaan ini
menyatakan sebagai penganut Syi’ah dan dijadikan sebagai madzhab negara. Oleh
karena itu, kerajaan Safawi dianggap sebagai peletak dasar pertama terbentuknya
negara Iran dewasa ini. Kerajaan Safawi berasal dari sebuah gerakan tarekat
yang berdiri di daerah Ardabil kota Azerbaijan (Holt dkk, 1970:394). Tarekat
ini bernama Safawiyah sesuai dengan nama pendirinya Safi Al-Din, salah satu keturunan Imam Syi’ah yang keenam “Musa al-Kazim”.
Pada awalnya tarekat ini bertujuan memerangi orang-orang yang ingkar dan
pada akhirnya memerangi orang-orang ahli bid’ah.[22] Tarekat
ini menjadi semakin penting setelah ia mengubah bentuk tarekat itu dari pengajian
tasawuf murni yang bersifat lokal menjadi gerakan keagamaan yang besar
pengaruhnya di Persia, Syiria dan Anatolia.
Dalam perkembangannya Bangsa Safawi (tarekat
Safawiyah) sangat fanatik terhadap ajaran-ajarannya. Hal ini ditandai dengan
kuatnya keinginan mereka untuk berkuasa karena dengan berkuasa mereka dapat
menjalankan ajaran agama yang telah mereka yakini (ajaran Syi’ah). Karena itu,
lama kelamaan murid-murid tarekat Safawiyah menjadi tentara yang teratur,
fanatik dalam kepercayaan dan menentang setiap orang yang bermazhab selain
Syiah.
Bermula dari prajurit akhirnya mereka memasuki Dunia
perpolitikan pada masa kepemimpinan Junaed (1447-1460 M). Dinasti Safawi
memperluas geraknya dengan menumbuhkan kegiatan politik di dalam
kegiatan-kegiatan keagamaan. Perluasan kegiatan ini menimbulkan konflik dengan
penguasa Kara Koyunlu (domba hitam), salah satu suku bangsa Turki, yang akhirnya
menyebabkan kelompok Junaed kalah dan diasingkan kesuatu tempat. Di tempat baru
ini ia mendapat perlindungan dari penguasa Diyar Bakr, AK Koyunlu, juga suku bangsa
Turki. Ia tinggal di istana Uzun Hasan, yang ketika itu menguasai sebagian besar
Persia.[23]
Tahun 1459 M, Juneid mencoba merebut Ardabil tapi gagal. Pada tahun 1460 M,
ia mencoba merebut Sircassia tetapi pasukan yang dipimpinnya dihadang oleh
tentara Sirwan dan ia terbunuh dalam pertempuran tersebut.[24]
Penggantinya diserahkan kepada anaknya Haidar secara resmi pada tahun 1470 M,
lalu Haidar kawin dengan seorang cucu Uzun Hasan dan lahirlah Isma’il yang
kemudian hari menjadi pendiri kerajaan Safawi di Persia dan mengatakan bahwa
Syi’ahlah yang resmi dijadikan mazdhab kerajaan ini. Kerajaan inilah yang
dianggap sebagai peletak batu pertama negara Iran.[25]
Gerakan Militer Safawi yang dipimpin oleh Haidar dipandang sebagai rival
politik oleh AK Koyunlu setelah ia menang dari Kara Koyunlu (1476 M).
Karena itu, ketika Safawi menyerang
wilayah Sircassia dan pasukan Sirwan, AK Koyunlu mengirimkan bantuan militer
kepada Sirwan, sehingga pasukan Haidar kalah dan ia terbunuh.[26]
Ali, putra dan pengganti Haidar, didesak bala tentaranya untuk menuntut
balas atas kematian ayahnya, terutama terhadap AK Koyunlu. Akan tetapi Ya’kub
pemimpin AK Koyunlu menangkap dan memenjarakan Ali bersama saudaranya, Ibrahim,
Ismail dan ibunya di Fars (1489-1493 M). Mereka dibebaskan oleh Rustam, putra
mahkota AK Koyunlu dengan syarat mau membantunya memerangi saudara sepupunya.
Setelah dapat dikalahkan, Ali bersaudara kembali ke Ardabil. Namun, tidak lama
kemudian Rustam berbalik memusuhi dan menyerang Ali bersaudara dan Ali terbunuh
(1494 M).[27]
Periode selanjutnya, kepemimpinan gerakan Safawi diserahkan pada Ismail.
Selama 5 tahun, Ismail beserta pasukannya bermarkas di Gilan untuk
menyiapkan pasukan dan kekuatan. Pasukan yang di persiapkan itu diberi nama
Qizilbash (baret merah). Pada tahun 1501 M, pasukan Qizilbash di bawah
pimpinan Ismail menyerang dan mengalahkan AK Koyunlu (domba putih) di sharur
dekat Nakh Chivan. Qizilbash terus berusaha memasuki dan menaklukkan
Tabriz, yakni ibu kota AK Koyunlu dan akhirnya berhasil dan mendudukinya. Di
kota Tabriz Ismail memproklamasikan dirinya sebagai raja pertama Dinasti
Safawi. Ia disebut juga Ismail I.[28]
Ismail I berkuasa kurang lebih 23 tahun antara 1501-1524 M. Pada sepuluh
tahun pertama ia berhasil memperluas wilayah kekuasaannya, Buktinya ia dapat menghancurkan sisa-sisa kekuatan AK Koyunlu di
Hamadan (1503 M), menguasai propinsi Kaspia di Nazandaran, Gurgan dan Yazd
(1504 M), Diyar Bakr (1505-1507 M) Baghdad dan daerah Barat daya Persia (1508
M), Sirwan (1509 M) dan Khurasan. Hanya dalam waktu sepuluh tahun itu wilayah
kekuasaannya sudah meliputi seluruh Persia dan bagian timur Bulan Sabit Subur (Fertile
Crescent). Bahkan tidak sampai di situ saja, ambisi politik mendorongnya
untuk terus mengembangkan wilayah kekuasaan ke daerah-daerah lainnya seperti
Turki Usmani.
Ismail berusaha merebut dan mengadakan ekspansi ke wilayah kerajaan Usmani
(1514 M), tetapi dalam peperangan ini Ismail I mengalami kekalahan malah Turki Usmani
yang dipimpin oleh sultan Salim dapat menduduki Tabriz. Kerajaan Safawi
terselamatkan dengan pulangnya Sultan Usmani ke Turki karena terjadi perpecahan
di kalangan militer Turki di negerinya.[29]
Kekalahan tersebut meruntuhkan kebanggaan dan kepercayaan diri Ismail.
Akibatnya dia berubah, dia lebih senang menyendiri, menempuh kehidupan
hura-hura dan berburu. Keadaan itu berdampak negatif bagi kerajaan Safawi dan pada
akhirnya terjadi persaingan dalam merebut pengaruh untuk dapat memimpin
kerajaan Safawi antara pimpinan suku-suku Turki, pejabat keturunan Persia dan
Qizibash.[30]
Rasa pemusuhan dengan Kerajaan Usmani terus berlangsung sepeninggal Ismail
I, peperangan antara dua kerajaan besar Islam ini terjadi
beberapa kali pada masa pemerintahan Tahmasp I (1524-1576 M), Ismail II
(1576-1577 M) dan Muhammad Khudabanda (1577-1567M). Pada masa tiga raja
tersebut kerajaan Safawi mengalami kelemahan. Hal ini di karenakan sering terjadinya
peperangan melawan kerajaan Usmani yang lebih kuat, juga sering terjadi
pertentangan antara kelompok dari dalam kerajaan Safawi sendiri. Berikut urutan
penguasa kerajaan Safawi :
1) Isma’il I (1501-1524 M)
2) Tahmasp I (1524-1576 M)
3) Isma’il II (1576-1577 M)
4) Muhammad Khudabanda (1577-1587 M)
5) Abbas I (1587-1628 M)
6) Safi Mirza (1628-1642 M)
7) Abbas II (1642-1667 M)
8) Sulaiman (1667-1694 M)
9) Husein I (1694-1722 M)
10)
Tahmasp II (1722-1732 M)
11)
Abbas III (1732-1736 M)
b)
Masa Kejayaan Kerajaan Syafawi
Kondisi kerajaan Safawi yang memprihatinkan itu baru bisa diatasi setelah
raja Safawi kelima, Abbas I naik tahta (1588-1628 M). Langkah-langkah yang
ditempuh oleh Abbas I dalam rangka memulihkan kerajaan Safawi adalah:
1) Berusaha menghilangkan dominasi pasukan Qizilbash dengan cara membentuk
pasukan baru yang berasal dari budak-budak dan tawanan perang bangsa Georgia,
Armenia dan Sircassia.
2) Mengadakan perjanjian damai dengan Turki Usmani dengan jalan menyerahkan
wilayah Azerbaijan, Georgia, dan disamping itu Abbas berjanji tidak akan
menghina tiga Khalifah pertama dalam Islam (Abu Bakar, Umar dan Usman) dalam
khutbah-khutbah Jum’at. Sebagai jaminan atas syarat itu, Abbas menyerahkan
saudara sepupunya Haidar Mirza sebagai sandera di Istambul.[31]
Masa kekuasaan Abbas I merupakan puncak kejayaan kerajaan Safawi. Ia
berhasil mengatasi gejolak politik dalam negeri yang mengganggu stabilitas
negara dan sekaligus berhasil merebut kembali beberapa wilayah kekuasaan yang
pernah direbut oleh kerajaan lain seperti Tabriz, Sirwan dan sebagainya yang
sebelumnya lepas direbut oleh kerajaan Usmani. Kemajuan yang di capai kerajaan
Safawi tidak hanya terbatas di bidang politik, melainkan bidang lainnya juga
mangalami kemajuan. Kemajuan-kemajaun itu antara lain:
1) Bidang Ekonomi
Kemajuan ekonomi pada masa itu bermula dengan penguasaan atas kepulauan
Hurmuz dan pelabuhan Gumrun yang diubah menjadi Bandar Abbas. Dengan demikian
Safawiyah menguasai jalur perdagangan antara Barat dan Timur. Di samping sektor
perdagangan, Safawiyah juga mengalami kemajuan dalam bidang pertanian, terutama
hasil pertanian dari daerah Bulan Sabit yang sangat subur (Fertille
Crescent).
2) Bidang Ilmu Pengatahuan
Sepanjang sejarah Islam Persia di kenal sebagai bangsa yang telah
berperadaban tinggi dan berjasa mengembangkan ilmu pengetahuan. Oleh karena
itu, sejumlah ilmuan yang selalu hadir di majlis istana yaitu Baha al-Dina
al-Syaerazi, generalis ilmu pengetahuan, Sadar al-Din al-Syaerazi, filosof, dan
Muhammad al-Baqir Ibn Muhammad Damad, filosof, ahli sejarah, teolog dan seorang
yang pernah pernah mengadakan observasi tentang kehidupan lebah.[32]
3) Bidang Pembangunan Fisik dan Seni
Kemajuan bidang seni arsitektur ditandai dengan berdirinya sejumlah
bangunan megah yang memperindah Isfahan sebagai ibu kota kerajaan ini. Sejumlah
masjid, sekolah, rumah sakit, jembatan yang memanjang diatas Zende Rud dan
Istana Chihil Sutun. Kota Isfahan juga diperindah dengan kebun wisata yang
tertata apik. Ketika Abbas I wafat, di Isfahan terdapat sejumlah 162 masjid, 48
akademi, 1802 penginapan dan 273 pemandian umum. Unsur lainnya terlihat dalam
bentuk kerajinan tangan, keramik, permadani dan benda seni lainnya.
c) Kemunduran dan Kehancuran Kerajaan Safawi
Sepeninggal Abbas I, Kerajaan Safawi berturut-turut diperintah oleh enam
raja, yaitu Safi Mirza (1628-1642 M), Abbas II (1642-1667 M), Sulaiman
(1667-1694 M), Husein (1694-1722 M), Tahmasp II (1722-1732 M) dan Abbas III
(1733-1736 M). Pada masa raja-raja tersebut kondisi kerajaan Safawi tidak
menunjukkan grafik naik dan berkembang, tetapi justru memperlihatkan kemunduran
yang akhirnya membawa kepada kehancuran.
Raja Safi Mirza (cucu Abbas I) juga menjadi penyebab kemunduran Safawi
karena dia seorang raja yang lemah dan sangat kejam terhadap pembesar-pembesar
kerajaan. Kota Qandahar lepas dari kekuasaan kerajaan Safawi, diduduki oleh kerajaan
Mughal yang ketika itu diperintah oleh Sultan Syah Jehan, sementara Baghdad
direbut oleh kerajaan Usmani.
Abbas II adalah raja yang suka minum-minuman keras sehingga ia jatuh sakit
dan meninggal. Sebagaimana Abbas II, Sulaiman juga seorang pemabuk. Ia
bertindak kejam terhadap para pembesar yang dicurigainya. Akibatnya rakyat
bersikap masa bodoh terhadap pemerintah. Ia diganti oleh Shah Husein yang alim.
Ia memberi kekuasaan yang besar kepada para ulama Syi’ah yang sering memaksakan
pendapatnya terhadap penganut aliran Sunni. Sikap ini membangkitkan kemarahan
golongan Sunni Afghanistan, sehingga mereka berontak dan berhasil mengakhiri
kekuasaan Dinasti Safawi.[33]
Pemberontakan bangsa Afghan tersebut terjadi pertama kali tahun 1709 M di
bawah pimpinan Mir Vays yang berhasil merebut wilayah Qandahar. Pemberontakan
lainnya terjadi di Heart, suku Ardabil Afghanistan berhasil menduduki Mashad.
Mir Vays diganti oleh Mir Mahmud dan ia dapat mempersatukan pasukannya dengan
pasukan Ardabil, sehingga ia mampu merebut negeri-negeri Afghan dari kekuasaan
Safawi.
Karena desakan dan ancaman Mir Mahmud, Shah Husein akhirnya mengakui kekuasaan
Mir Mahmud dan mengangkatnya menjadi gebernur di Qandahar dengan gelar Husei Quli Khan (budak Husein). Dengan
pengakuai ini, Mir Mahmud makin leluasa bergerak sehingga tahun 1721 M, ia
merebut Kirman dan tak lama kemudian ia menyerang Isfahan dan memaksa Shah
Husein menyerah tanpa syarat. Pada tanggal 12 Oktober 1722 M Shah Husein
menyerah dan 25 Oktober Mir Mahmud memasuki kota Isfahan dengan penuh
kemenangan.[34]
Salah seorang putra Husein, bernama Tahmasp II, mendapat dukungan penuh
dari suku Qazar dari Rusia, memproklamasikan dirinya sebagai raja yang sah dan
berkuasa atas Persia dengan pusat kekuasaannya di kota Astarabad. Tahun 1726 M,
Tahmasp II bekerjasama dengan Nadir Khan dari suku Afshar untuk memerangi dan
mengusir bangsa Afghan yang menduduki Isfahan. Asyraf, pengganti Mir Mahmud,
yang berkuasa di Isfahan digempur dan dikalahkan oleh pasukan Nadir Khan tahun
1729 M. Asyraf sendiri terbunuh dalam peperangan itu. Dengan demikian Dinasti
Safawi kembali berkuasa. Namun, pada bulan Agustus 1732 M, Tahmasp II di pecat
oleh Nadir Khan dan di gantikan oleh Abbas III (anak Tahmasp II) yang ketika
itu masih sangat kecil. Empat tahun setelah itu, tepatnya tanggal 8 Maret 1736,
Nadir Khan mengangkat dirinya sebagai raja menggantikan Abbas III. Dengan
demikian berakhirlah kekuasaan Dinasti Safawi di Persia.[35] Adapun
sebab-sebab kemunduran dan kehancuran kerajaan Safawi adalah:
1) Adanya konflik yang berkepanjangan dengan kerajaan Usmani.
2) Terjadinya dekandensi moral yang melanda sebagian pemimpin kerajaaan
Safawi, yang juga ikut mempercepat proses kehancuran kerajaan ini.
3) Pasukan ghulam (budak-budak) yang dibentuk Abbas I ternyata tidak
memiliki semangat perjuangan yang tinggi
seperti semangat Qizilbash. Hal ini dikarenakan mereka tidak memiliki
ketahanan mental karena tidak dipersiapkan secara terlatih dan tidak memiliki
bekal rohani. Kemerosotan aspek kemiliteran ini sangat besar pengaruhnya
terhadap lenyapnya ketahanan dan pertahanan kerajaan Safawi.
4) Seringnya terjadi konflik intern dalam bentuk perebutan kekuasaan di kalangan keluarga istana.
Kesimpulan
Setelah runtuhnya Dinasti Abbasiyah di Baghdad,
kondisi Umat Islam mengalami kemunduran dalam banyak hal. Namun keadaan politik
Islam secara keseluruhan berangsur membaik dan pulih bersamaan dengan munculnya
tiga kerajaan besar yaitu: Kerajaan Turki Usmani di Turki (1300-1922), Kerajaan
Safawi di Persia (1501-1732) dan Kerajaan Moghul di India (1526-1857).
Kerajaan Turki Utsmani, Kerajaan
Syafawi, dan Kerajaan Mogul memiliki kontribusi besar bagi perkembangan
peradaban Islam di dunia. Pada awal kemunculannya ketiga kerajaan ini memainkan
peran cukup signifikan dalam meraih kembali kerajaan Islam. Tetapi seiring
dengan perkembangan waktu, ketiganya mengalami kemunduran dan akhirnyya
mengalami kemunduran.
Dari tiga kerajaan yang telah disebutkan di atas
yang paling lama berdirinya adalah kerajaan Turki Usmani, yakni selama 692
tahun. Pendirinya adalah Usman putra Athagol dan mengalami puncak kejayaan pada
masa Sulaiman I. Puncak perkembangan peradaban Kerajaan Utsmani adalah tatkala
berhasil menaklukan Constantinopel dan membangun berbagai sarana Umat Islam
disana. Faktor yang mempengaruhi kemundurannya adalah pemberontakan internal
dan peperangan melawan Eropa.
Kerajaan Syafawi berkuasa selama 231 tahun atau
sekitar 2 abad. Pendirinya adalah Ismail dan mengalami puncak kejayaan pada
periode Abbas I. Kemajuan Syafawi tidak hanya pada bidang keilmuan dan ekonomi
saja, namun juga pada bidang kesenia. Faktor yang mempengaruhi kemundurannya
adalah ketidakcakapan para pemimpinnya, konflik berkepanjangan dengan Kerajaan
Turki Utsmani dan koflik intern serta perebutan kekuasaan di kalangan keluarga
istana.
Sedangkan Kerajaan Mogul didirikan oleh Zahiruddin
Muhammad Babur di India dan berjaya selama 331 tahun. Kemajuan yang menonjol
terjadi pada masa Akbar yakni dalam system struktur pemerintahan dan
kemiliteran. Mogul juga berjasa dalam pengembangan bidang pendidikan,
keagamaan, pertambangan, perdagangan dan seni. Sebab-sebab kemundurannya adalah
terjadinya stagnasi pembinaan militer, kemerosotan moral dan hidup mewah di
kalangan tokoh politik, dan lemahnya kepribadin para pemimpinnya.
DAFTAR PUSTAKA
Malik-Sy,H.
Maman A. 2005. Sejarah Kebudayaan Islam. Yogyakarta : Pokja Akademik UIN
Sunan Kalijaga.
Abubakar,
Istianah. 2008. Sejarah Peradaban Islam. Malang : UIN-Malang Press.
Yatim, Dr.
Badri. 2000. Sejarah Perdaban Islam. Jakarta : PT RajaGrafindo Persada
[2] Badri Yatim. Sejarah
Peradaban Islam (Dirasah Islamiyah II), Bandung . PT Raja Grapindo Persada.
2000.
hlm. 129
[3]
Phillip K.
Hitti. History of Arab. Terj. R Cecep
Lukman yasin dan Dedi Slamet Riyadi. (Jakarta. Serambi
Ilmu
semesta, 2006), hlm. 714
[14]
Ibid, hlm. 167
[15]
Ali, Sejarah Islam Tarikh Pramodern,
hlm. 351
[16]
Diwaktu Babur menjadi penguasa Mongol, Samarkhand adalah satu kota besar yang
berada di Asia Tengah yang masih dikuasi oleh Muhammad Khan Ayibani, seorang
raja dari Negeri Bukhara.
[17]
K. Ali, Sejarah Islam Tarikh Pramodern,
hlm. 352
Tidak ada komentar:
Posting Komentar